Jumat, 01 Juni 2012

KERAJAAN ALLAH (Rufinus Nikolaus, N.)



 
I. Pendahuluan.
            Kerajaan Allah merupakan tujuan dari perutusan Yesus. Pewartaan Kerajaan Allah oleh Yesus Kristus sangat tampak dalam teks Kitab Suci Perjanjian Baru yang mengatakan: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1: 14-15). Untuk memahami suatu misi yang mengarah kepada perutusan Yesus, kita harus mengingat kembali perkembangan harapan bangsa Israel akan datangnya Kerajaan Allah. Kita sebagai seorang manusia yang percaya kepada Allah senantiasa mengalami perkembangan dalam hidup seiring dengan tantangan yang kita hadapi dalam sejarah hidup kita. Dalam hidup kita dituntut untuk selalu setia akan apa yang kita imani. Jika kita tidak setia akan apa yang kita imani maka kita akan kehilangan pegangan hidup.
            Demikian halnya dengan Bangsa Israel pada masa perjanjian lama, memiliki suatu harapan yang pasti akan penantian datangnya Kerajaan Allah. Bangsa Israel berharap agar kiranya janji itu nyata terwujud. Bangsa Israel menginginkan suatu keselamatan agar mereka merasa aman dan damai. Maka dari itu mereka sangat membutuhkan rahmat dari Allah, agar Allahlah yang meraja dan tinggal dalam kehidupan mereka. Harapan bangsa Israel akan datangnya Kerajaan Allah dibangun atas dasar janji Allah Sang Pencipta yang berkuasa atas sejarah.[1] Kini, Kerajaan Allah sudah berkembang  bagaikan ragi dalam roti. Kita dituntut untuk setia pada janji Allah. Bila kita setia maka kita akan selamat dan kelak berbahagia bersama Allah.

II. Apa itu Kerajaan Allah.
2.1 Pemahaman Kerajaan Allah  dalam Masyarakat Yahudi.
            Inti dari seluruh kesaksian yesus adalah Kerajaan Allah. Selama bertahun-tahun Yesus berkhotbah dan mengajar dengan pokok bahasan yang tunggal, yakni mengenai KerajaanAllah. Maka di sini kita akan melihat apa yang diartikan dengan Kerajaan Allah.
            Yesus tinggal di tengah-tengah masyarakat yahudi. Dalam masyarakat Yahudi tempat Yesus dibesarkan terdapat berbagai anggapan tentang kerajaan Allah. Dalam hal ini istilah Aram yang digunakan adalah malkuth yang berarti pemerintahan raja. Namun istilah ini bukanlah menggambarkan tempat atau wilayah dalam arti yang statis melainkan menggambarkan tindakan atau kewibawaan dalam arti yang dinamis. Pada masa ini dapat digambarkan tiga bentuk anggapan tentang Kerajaan Allah, yaitu:
1.      Kerajaan Allah digambarkan dengan kekuasaan Allah yang tidak dibatasi oleh apapun, artinya kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Hal ini dapat kita bandingkan dengan mazmur 145:13.
2.      Kerajaan Allah sebagai buah ketaatan umat kepada Allah sebagai mana hal ini juga senantiasa diajarkan oleh para nabi.
3.      Anggapan ketiga menggambarkan Kerajaan Allah sebagai suatu pengharapan iman atau tujuan akhir dari iman.[2]

Kerajaan Allah tidak berhubungan dengan masalah tempat, misalnya kerajaan Inggris atau kerajaan lainnya; ataupun seperti gereja, dan juga bukan seperti suatu keadaan masa depan seperti Kerajaan Surga, meskipun mencakup hal-hal yang demikian. Sebaliknya, hal ini menunjuk pada suatu klekuasaan yang tak terbatas, dimana Allah memerintah dan meraja. Para penulis Kitab Suci Perjanjian Baru melihat bahwa kehidupan Yesus menggambarkan Allah yang datang kedunia melalui Yesus Kristus untuk mendirikan Kerajaan-Nya. Kristus datang ke dunia untuk memberikan keselamatan kepada masyarakat yang tertindas dan menciptakan perdamaian bagi seluruh umat manusia sebagai ciptaan Allah. Yesus hadir untuk memberikan pemulihan bagi kehidupan umat manusia dan mempersatukan seluruh umat manusia. Allah akan senantiasa hadir dalam setiap usaha manusia; baik secara fisik maupun spiritual, intelektual dan emosional, budaya dan sosial. Roh Allah senantiasa hadir dalam diri Yesus Kristus.[3]

2.2 Pandangan Yesus tentang Kerajaan allah.
            Di dalam Injil Sinoptik Yesus sudah menekankan bahwa Kerajaan Allah sudah dimulai dan sudah ada. Dalam Mrk 4: 11 Yesus berkata kepada para murid “Kepadamu telah diberikan rahasia kerajaan Allah…”, sedangkan kepada orang Farisi Yesus berkata “Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21). Yesus Kristus dalam Sabda Bahagia juga memberi pengajaran dengan berkata “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 6:20. dengan melihat beberapa perumpamaan di atas, Yesus mau mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah sebuah suasana hati dan bukan suatu pengharapan untuk masa yang akan datang melainkan suatu tindakan Allah untuk memulai babak baru dalam sejarah, yang sudah dimulai dari sekarang.[4]
            Kerajaan Allah sudah datang dalam diri dan tindakan Yesus. Hal ini tampak dalam Luk 11: 20 yang mengatakan “tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Walaupun demikian, timbul pertanyaan tentang Kerajaan Allah, yakni kalau memang Kerajaan Allah sudah datang mengapa Yesus menyuruh paramurid berdoa dengan berkata: “Bapa kami yang ada di Surga…, dimuliakanlah nama-Mu…(Mat 6: 9-10)? Dalam hal ini sebenarnya Yesus mau mengajarkan beberapa hal, yakni: pertama, Kerajaan Allah sudah dimulai namun belum digenapi, sudah ada namun belum lengkap. Kedua, yang mendatangkan Kerajaan Allah bukanlah kita melainkan Bapa. Kerajaan Allah merupakan pemberian dan anugerah dari Allah. Ketiga, pemberian itu perlu ditanggapi oleh kita manusia dengan penuh kerendahan hati dan keterbukaan memohon datangnya Kerajaan Allah.
            Jadi Kerajaan Allah bukanlah menggambarkan suatu persekutuan umat sebab Kerajaan Allah tidak ditandai dengan keberadaan orang. Kerajaan Allah juga bukan menggambarkan suasana hati sebab pemerintahan Allah juga tidak tergantung dari keberadaan manusia. Kerajaan Allah juga bukan menggambarkan soal kehidupan sesudah kematian sebab pemerintahan Allah justru sudah dimulai dari sekarang di bumi ini. Tetapi Kerajaan Allah merupakan intervensi Allah Bapa bagi kehidupan manusia di bumi di mana Allah mengubah jalannya sejarah manusia menuju jalan lain. Hal ini ditandai dengan datangnya Yesus Kristus ke dunia untuk memberikan kesaksian. Manusia diundang oleh Allah untuk menaggapi kesaksian tersebut dengan meninggalkan kehidupan yang lama menuju kehidupan yang baru. Kerajaan yang baru itu diperintah oleh Allah.[5]

2.3 Visi Kerajaan Allah
            Visi merupakan suatu penglihatan ke depan yang memberi arah dan tuntunan pada langkah dan sikap kita. Visi merupakan suatu keadaan yang belum tercapai tetapi kita berusaha mencapainya dengan segala perjuangan dan pengorbanan. Visi sangat berhubungan dengan pengharapan kita sebab visi bisa menjadi pendorong untuk mencapai tujuan. Maka dari itu untuk dapat mengikuti Yesus kita harus mengetahui dan mengenal visi dari yesus Kristus. Seluruh pengajaran yesus selalu menunjuk pada Kerajaan Allah. Di dalam ajaran tentang pemenuhan Kerajaan Allah yang akan datang, kita dapat menemukan visi dari pelayanan Yesus. Seluruh ajaran, tindakan dan sikap Yesus selalu mengarah kepada terpenuhinya Kerajaan Allah.
            Kelahiran, kematian dan kebangkitan Yesus merupakan suatu tahapan untuk pemenuhan misi pelayanan Yesus untuk mewujudkan Kerajaan Allah. Tugas mewuudkan Kerajaan Allah di dunia merupakan misi Kristus. Maka dari itu semua orang yang dipanggil untuk mengikuti Yesus harus bersama-sama mewujudkan visi kerajaan Allah. Pelayanan tanpa visi berarti pelayanan yang tanpa pengharapan. Visi orang yang percaya kepada Kristus bukanlah sekadar bangunan gereja yang mewah, banyaknya orang yang dibabtis atau besarnya pengaruh kekuasaan politik orang kristen, tetapi visi orang yang percaya adalah mewujudkan Kerajaan Allah di bumi.[6]

2.4 Dialog sebagai usaha untuk membangun Kerajaan Allah
            Dialog merupakan salah satu sikap partisipasi aktif dan wujud konkret dalam membangun Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu bertumbuh sejauh orang berbalik kepada Allah dan dalam suasana keakraban berdoa kepada-Nya dan berusaha untuk melakukan kehendak-Nya. Kerajaan Allah merupakan wujud keselamatan yang sudah dipersiapkan oleh Allah dalam perjanjian lama, dilaksanakan oleh Yesus kristus dan di dalam Kristus serta diberikan kepada semua orang oleh gereja.[7]
            Kerajaan Allah terpenuhi dalam kepercayaan kepada misteri Bapa dan misteri cinta-Nya, yang dianugerahkan secara bebas dalam diri Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Rencana keselamatan Allah diwujudkan oleh Yesus Kristus. Oleh sebab itu, Yesus menghadirkan Kerajaan Allah. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, perwujudan rencana keselamatan Allah mendapatkan kesempurnaan. Itulah sebabnya, kerajaan yang diwartakan dan didirikan oleh Kristus ialah kerajaan Allah. Dekatnya kerajaan Allah dimaksudkan dengan kerajaan yang telah dimulai oleh Yesus Kristus saat ini dalam sejarah hidup manusia. Artinya, realitas kerajaan Allah sedang terjadi, berlangsung dan menyejarah.
            Kerajaan Allah diperuntukkan bagi seluruh umat manusia dan semuanya dipanggil untuk menjadi anggota Kerajaan itu. Keselamatan yang diahdirkan oleh Kerajaan Allah merangkum seluruh dimensi-dimensi rohani dan jasmani kehidupan manusia. Kerajaan Allah tumbuh diantara umat manusia; oleh karena itu, hakekat dari Kerajaan itu ialah suatu persekutuan diantara seluruh umat manusia.
            Gereja memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Allah, sebab didalam gereja ada sarana keselamatan. Gereja mewartakan Kerajaan Allah bila ia mewartakan Kristus. Secara prinsipial Kerajaan Allah diwahyukan dalam pribadi Kristus sendiri. Dalam hal ini, ada kesinambungan antara Kerajaan yang diwartakan Kristus dan misteri Kristus yang diwartakan gereja. Karena gereja mengungkapkan keselamatan Kristus, maka bisa dikatakan gereja merupakan benih dan awal Kerajaan Allah. Sangatlah tidak tepat bila gereja dipandang secara terpisah dengan Kerajaan Allah.[8]

2.5 Perumpaman Yesus tentang Kerajaan Allah
            Keberadaan Kerajaan Allah tidak dapat dilihat siapapun, bahkan oleh para Rasul sendiri. Akan tetapi, Allah mewahyukan diri-Nya secara langsung dalam diri Yesus Kristus yang penuh dengan kemuliaan dan kekuasaan. Kemuliaan Allah dalam diri Yesus Kristus dapat kita lihat pada peristiwa Gunung Tabor. Peristiwa Gunung Tabor meninggalkan kenangan mengenai hubungan Allah dengan kedatangan Kerajaan-Nya. Beberapa ayat dalam teks kitab suci khususnya injil sinoptik memberikan gambaran tentang Kerajaan Allah, seperti Mrk 9:1; mengatakan “Ada beberapa diantara kamu di sini, yang tidak akan merasakan kematian, sampai mereka melihat Kerajaan Allah datang dengan kuasa.” Mat 16: 28 mengatakan “sampai mereka melihat Anak Manusia datang dalam Kerajaan-Nya”. Luk 9:27 mengatakan, “sampai mereka melihat Kerajaan Allah”. Melalui kutipan Injil ini, jelaslah  bahwa inti dari pesan Yesus adalah Kerajaan Allah.[9]
            Kerajaan Allah senantiasa berlanjut di bumi. Kerajaan Allah bisa juga kita kondisikan dengan hidup dalam Tuhan dan mengikuti perintah-Nya dalam kebenaran. Yesus Kristus juga memberikan ide tentang Kerajaan Allah dengan berbagai perumpamaan seperti perumpamaan tentang biji sesawi, perumpamaan tentang ragi, perumpamaan tentang harta yang tersembunyi dan perumpamaan tentang mutiara yang hilang. Dalam Sabda Bahagia, kita dapat melihat bahwa Kerajaan Allah diberikan bagi orang yang miskin dan menderita penganiayaan demi kebenaran. Hal penting yang perlu kita ingat adalah pernyataan bahwa “Kerajaan Allah ada dalam diri kita”. Kerajaan Allah hadir dalam diri orang-orang yang percaya kepada Kristus dan hidup menurut kehendak-Nya dalam gereja-Nya, dan dalam kuasa Roh Kudus. Kerajaan Allah itu kekal dan hadir di tengah umat manusia sampai pada zaman yang akan datang.[10]
            Kisah yang diungkapkan Yesus dalam perumpamaan menggambarkan kasih Allah kepada manusia dan Allah yang murah hati serta pengampun. Allah memperhatikan orang miskin, pendosa, orang sakit dan orang yang tersingkir. Kasih Allah bersifat universal. Allah senantiasa mengampuni orang berdosa seumpama seorang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan domba untuk menemukan satu domba yang hilang. Allah juga seumpama seorang perempuan yang dengan cermat mencari dirham yang hilang. Allah juga seperti seorang bapak yang lari keluar rumah untuk menyambut anaknya yang tidak patut.[11]
            Kerajaan Allah telah membentuk paradigma baru yang berpusatkan pada Kerajaan Allah. Artinya, sejarah keselamatan tidak lagi disempitkan bagi penekanan peranan gereja dengan segala kebijakan-kebijakan pastoralnya, melainkan lebih mengedepankan partisipasi umat. Sejarah keselamatan terarah pada persatuan dengan Allah dan manusia. Maka dari itu, peranan aktif bagi manusia secara pribadi sangat dibutuhkan. Kerajaan itu merupakan urusan setiap orang, yaitu pribadi-pribadi, masyarakat dan dunia. Bekerja bagi Kerajaan Allah berarti mengakui dan memajukan kegiatan Allah yang hadir dalam sejarah manusia serta mengubah sejarah itu. Membangun Kerajaan Allah berarti bekerja demi pembebasan dari  segala bentuk kejahatan, sebab Kerajaan Allah itu merupakan perwujudan nyata dari rencana Allah dalam segala kepenuhan-Nya.[12]

III. Penutup
            Pewahyuan Allah dalam diri Kristus memberikan pertanyaan kepada kita, siapakah kita sebenarnya? Dan sejarah macam apa yang kita bentuk di dunia ini? Pewahyuan Allah dalam diri Kristus memberikan penjelasan tentang masa depan kita dan untuk masa depan itulah kita dipanggil. Masalah yang sulit bagi iman Kristiani bukanlah realitas Allah dan bukan juga realitas Allah yang menjadi manusia dalam pribadi Yesus, tetapi realitas itu sendiri. Apakah arti hidup ini sehingga Roh Allah menerangi, menguatkan dan menyucikan kita.
            Benarkah Allah telah memilih tinggal bersama kita? Jawabannya adalah “Ya”. Allah mencintai setiap manusia. Allah memanggil kita untuk hidup bersama Dia dan mengalami nasib-Nya. Allah memanggil kita pada kepenuhan hidup dan kasih dalam Kerajaan Allah. Itulah kabar baik yang senantiasa menopang harapan kita. Kerajaan Allah berasal dari Allah bukan dari manusia. Oleh sebab itu, tentu Kerajaan Allah tidak akan pernah binasa sampai selama-lamanya. Sebab, Allah senantiasa hadir dalam panggung sejarah umat manusia.









Daftar Pustaka


Armada, Riyanto.E. Dialog Interreligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
           
Hentz, Otto. Pengharapan Kristen: Kebebasan, Kerajaan Allah, Akhir Zaman Kematian, Kebangkitan, Neraka,Pemurnian, Keabadian, Penghakiman. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
Ismail, Andar. Selamat Berkiprah: 33 Renungan tentang kesaksian.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Jao, Greg. The Kingdom Of God: 10 Studies for Individuals or Goups. United States of America: Inter Varsity Press, 2003.
P. Widyatmadja, Josef. Yesus dan Wong Cilik: Praktis Diakonia Transformatif dan teologi rakyat di Indonesia.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.

Royster, Dmitri. The Kingdom of God; The Sermon on The Mount.  New York: St. Vladimirs Seminary Press, 1992.
           



[1] Otto Hentz, Pengharapan Kristen: Kebebasan, Kerajaan Allah, Akhir Zaman Kematian, Kebangkitan, Neraka,Pemurnian, Keabadian, Penghakiman (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 43-44.
[2] Andar Ismail, Selamat Berkiprah: 33 Renungan tentang kesaksian (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hlm. 60.
                [3] Greg Jao, The Kingdom Of God: 10 Studies for Individuals or Goups (United States of America: Inter Varsity Press, 2003), hlm. 6-7.
[4] Andar Ismail, Selamat Berkiprah…, hlm. 60-61.
[5] Andar Ismail, Selamat Berkiprah…, hlm. 61-62.
[6] Josef  P. Widyatmadja, Yesus dan Wong Cilik: Praktis Diakonia Transformatif dan teologi rakyat di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), hlm. 122.
[7] E. Armada Riyanto, Dialog Interreligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah (Yogyakarta: Kanisius, 2010), hlm. 198-199.
                [8] E. Armada Riyanto, Dialog Interreligius…, hlm. 199-200.
                [9] Dmitri Royster, The Kingdom of God; The Sermon on The Mount (New York: St. Vladimirs Seminary Press, 1992), hlm. 15.  
                [10] Dmitri Royster, The Kingdom of God…, hlm. 17-18.
                [11]  Otto Hentz, Pengharapan Kristen: Kebebasan…, hlm. 51-52.
                [12]  E. Armada Riyanto, Dialog Interreligius…, hlm. 201.

YESUS MESIAS (oleh: Rufinus Nikolaus, N.)





PENGANTAR
            Pada zaman sekarang, pengertian Mesias sudah menjadi baku, bahwa Yesus Kristuslah Mesias yang telah datang ke dunia ini untuk menyelamatkan manusia dari dosa, sehingga setiap orang memperoleh hidup yang kekal pada saat kedatangan-nya untuk yang kedua kalinya. Kita mengenal Yesus sebagai Mesias, Penyelamat yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.
            Bangsa Israel sebagai bangsa Allah sudah menantikan kedatangan Mesias dengan berpegang pada nubuat para nabi. Namun ketika Yesus datang ke dunia Bangsa Israel kurang menerima Yesus sebagai Mesias. Figur Yesus tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh Bangsa Israel. Namun, bagaimanakah konsep Mesias yang mereka harapkan? Hal ini akan dicoba dijawab secara singkat berdasarkan metode Kristologi dari atas yang lebih menekankan Kemesiasan Yesus sebagai Putera Allah.

Yesus Mesias
            “Mesias” dan “Kristus” sama-sama dimengerti sebagai “Yang Terurapi” dan menunjuk pada seorang figur yang akan mendirikan Kerajaan Allah yang kekal di bumi yaitu suatu kerajaan damai. Orang Kristen percaya bahwa Yesus diurapi oleh Allah untuk merintis Kerajaan Allah yang kekal.[1] Yesus wafat sebagai Mesias, dan seluruh peristiwa sebelumnya semasa hidupnya juga mengarah ke situ. Tetapi, mengapa Yesus disebut Mesias? Ketika orang hendak membawa Yesus dengan paksa untuk dijadikan sebagai Raja, Ia menyingkir ke gunung seorang diri (Yoh 6: 25). Sesudah pengakuan Petrus: “Engkaulah Mesias”, Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia, Mengapa? Hal ini dirasa tidak jelas. Yang jelas bahwa jika Yesus mulai berbicara mengenai sengsara dan wafat-Nya, “Petrus menarik Dia ke samping dan menegur Dia”. Petrus tidak dapat menerima Yesus yang harus menderita walaupun hal itu justru harus diterima.[2]
            Injil Markus mewartakan Yesus Mesias melalui banyak gelar. Gelar-gelar yang diberikan kepada Yesus antara lain: orang Nazaret, Guru, Nabi, Putra Daud, Mesias, Anak Allah, Anak Manusia dan Tuhan. Gelar Orang Nazaret, Guru dan Nabi dipakai Markus untuk menekankan asal-usul dan status Yesus ketika berhadapan dengan Orang Yahudi.
            Gelar Putra Daud, Mesias, Anak Allah dan Anak Manusia dipakai Markus untuk mewartakan kepada jemaat Kristen bahwa Yesus menggenapi seluruh pengharapan mesianis Israel. Bagi orang Israel, keempat gelar ini mempunyai arti dasar yang sama, yaitu pribadi yang terurapi yang disebut Mesias. Mesias dikenal sebagai Raja yang akan datang untuk menaklukkan musuh-musuh Israel; membebaskan Israel dari perbudakan dan penderitaan serta menciptakan keadilan dan perdamaian. Mesias yang akan datang itu berasal dari dinasti Daud dan akan disebut Mesias, Putra Daud. Diyakini bahwa Mesias Putera Daud adalah Anak Allah. Harapan Mesianis Putra Daud dikenakan pada Yesus, “Yesus Putra Daud kasihanilah aku” (Mrk 10: 47).[3]
            Gagasan mereka tentang Mesias dimurnikan terus oleh Yesus. Mesias harus menderita dan justru dalam penderitaan itulah tampak dengan jelas bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus sebagai Mesias tidak boleh dipandang sebagai seorang pemimpin tentara seperti yang diharapkan orang Yahudi pada waktu itu tetapi justru dengan penderitaan dan wafat-Nya, Yesus mematahkan hukum balas membalas yang terus melahirkan penderitaan dan kejahatan. Namun, orang Yahudi sangat sulit untuk dapat menerima pandangan ini.[4]


Refleksi Penulis

            Dalam Gereja dapat ditemukan peranan Yesus Mesias sebagai pemimpin yang solider dengan manusia. Gereja, melalui sakramen-sakramen yang dimilikinya mewartakan karya keselamatan Yesus Mesias bagi semua orang. Penderitaan Salib menjadi dasar dan bukti cinta kasih Allah bagi manusia dalam diri Yesus Mesias. Yesus Mesias memberikan seluruh hidup-Nya sebagai tebusan semua orang agar semua orang yang ditebus dibawah kepemimpinan Yesus Mesias, kembali kepada Allah satu-satunya sumber keselamatan. Singkatnya, melalui misteri salib dan kebangkitan Yesus Mesias menghadirkan kuasa Allah yang menyelamatkan semua orang di tengah-tengah dunia. Oleh karena itu, dalam segala hal, Gereja mewartakan Yesus Mesias sebagai penyelamat dan pemimpin semua orang kepada kehidupan.
            Salib, penderitaan dan penolakan tidak boleh menjadi penghalang bagi seseorang dalam melaksanakan tugasnya sebagai wakil dan pelayan Yesus Mesias di dunia. Seseorang harus berani untuk menerima dan memanggul salib bersama dengan Yesus Mesias bila dalam pelayanannya ia dituntut untuk hal itu. Seorang religius harus yakin bahwa dalam melaksanakan seluruh tugasnya ia tidak sendirian melainkan bersama dan bersatu dengan Mesias. Seseorang harus yakin bahwa dasar kekuatan dalam pelaksanaan tugasnya adalah Allah.
            Yesus Mesias menghendaki agar semua umat-Nya bersatu padu, sama seperti diri-Nya bersatu padu denga Bapa, Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa, dan mereka menjadi satu dan sama. Kesatuan dengan Yesus Mesias dimungkinkan oleh Roh Kudus. Maka dari itu, seseorang harus terbuka pada kurnia Roh Kudus. Sikap ini dapat dikembangkan melalui doa, meditasi dan kesetiaan pada tugas  dan tanggungjawab Yesus Mesias. Melalui penyatuan diri dengan Yesus Mesias seserorang akan mampu meneladani Yesus Mesias dalam seluruh hidupnya.teladan Yesus Mesias hendaknya menjadi prinsip dan dasar kekuatan pelayanan seseorang.



[1] Michael Keene, Yesus, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 102.

[2] Tom Jacobs, Imanuel: Peubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus (Yogyakarta: Kanisius, 2000),  hlm…76-77.
[3] Yosef Lalu, Makna Hidup dalam Terang Iman Katolik ;  Yesus Kristus Pemberi Makna Hidup (Yogyakarta: Kanisius, 2010),  hlm. 258-259.
[4] W.R. Telford, The Theology of Gospel of Mark (Cambridge: University Press, 2006), hlm. 35.

T A O I S M E (oleh: Rufinus Nikolaus. N)




Pengantar
            Ajaran Tao merupakan sebuah filsafat mengenai suatu jalan untuk mengikuti alam, yang dirintis oleh seorang tokoh bernama Lao Zi. Lao Zi mengajarkan bahwa hidup sederhana dan harmonis sangatlah penting. Dengan demikian suatu sikap hidup yang selalu mencari keuntungan mesti dilepas dan hendaknya manusia mampu mengatur nafsu di dalam diri. Situasi yang penuh dengan keprihatinan memberi suatu harapan untuk lahirnya ajaran Tao yang menekankan kedamaian dan keharmonisan.
            Pada waktu itu ketamakan dan nafsu untuk berkuasa sungguh menguasai Cina sehingga hal ini membawa suatu penderitaan yang besar bagi masyarakat. Lao Zi yakin bahwa semakin manusia dikuasai oleh ketamakan dan hawa nafsu maka harapan untuk mencapai kedamaian dan kegembiraan serta keharmonisan semakin sulit untuk didapatkan. Maka dari itu Lao Zi menganjurkan suatu prinsip hidup yang selaras dengan alam.[1] Maka dalam tugas ini saya mencoba memaparkan sedikit ajaran tentang Tao. Ajaran tentang Tao sungguh menarik perhatian saya untuk membahasnya karena berisi nilai-nilai kebajikan yang patut dipatuhi oleh setiap manusia.

I. Riwayat Hidup Pendiri Taoisme
            Untuk mengetahui perkembangan Taoisme, telah banyak ahli melakukan penelitian dan mencari fakta tentang berdiri dan berkembangnya Taoisme. Mereka mencoba meneliti sejarah dan perkembangan aliran ini serta mencari siapa tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Namun karena banyak kelainan dalam tradisi sejarah maka sifat alami dari Taoisme itu masih banyak yang belum diketahui.
            Lao Zi adalah seorang laki-laki yang penuh dengan misteri. Ia lahir kira-kira tahun 604 sM. Lao Zi dikenal sebagai tokoh legendaris penulis kitab Tao Te Ching. Menurut cerita, Lao Zi tumbuh dewasa di dalam rahin ibunya selama 62 tahun. Ketika lahir ia sudah menjadi seorang laki-laki dewasa dengan rambut putih dan daun telinga yang panjang. Lao Zi bekerja di ibu kota Loyang sebagai penjaga arsip di istana kerajaan Chou. Selama ia bekerja sebagai penjaga arsip kerajaan, ia tahu banyak tentang adat kebiasaan Kaisar Kuning (2697 sM) dan semua karya agung yang ada pada masa itu. Ketika ia bertemu dengan Konfusius, ia telah berumur 50 tahun lebih tua daripada Konfusius. Konfusius pernah memohon kepada Lao Zi agar ia diajari ritual dalam berprilaku. Dengan kata lain dapatdikatakan bahwa Konfusius pernah berguru dan menjadi murid Lao Zi.
            Ada tradisi yang mengatakan bahwa ketika Lao Zi menikah ia dikaruniakan seorang anak bernama Tsung yang akhirnya menjadi seorang tentara yang amat terkenal. Namun banyak juga tradisi berikut yang mengaku sebagai keturunan Lao Zi tetapi tidak dapat dipastikan apakah  hal itu memang benar. Dipercayai bahwa Lao Zi tidak pernah membuka aliran resmi, tetapi banyak murid yang berduyun-duyun datang menghampirinya sehingga akhirnya ia memiliki sejumlah pengikut yang setia. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa hidupnya penuh dengan kesibukan.
            Kendati demikian, Lao Zi merasa sedikit frustasi akibat terjadinya kemerosotan nilai moral dalam masyarakat. Kehidupan kota membuat dia merasatidak mungkin hidup selaras dengan kepercayaan Taoisnya. Maka akhirnya pada usia yang sudah sangat lanjut; kira-kira berumur 160 tahun, ia memutuskan untuk meninggalkan kota ke wilayah barat yang tidak berpenghuni untuk menjalani hidup menyendiri sebagai seorang pertapa. Ketika sampai di pintu gerbang penjaga pintu memohon kepadanya agar meningglkan sejumlah catatan yang memuat kebijaksanaan. Akhirnya Lao Zi duduk dan menyusun buku yang terdiri dari 5.000 huruf yang sekarang dikenal dengan Tao Te Jing. Si penjaga gerbang sangat tergerak akan isi buku tersebut sehingga ia memutuskan untuk menemani Laozi dalam perjalanannya. Keduanya akhirnya menghilang dan tidak pernah muncul kembali. Ada legenda yang mengatakan bahwa Lao Zi muncul di India untuk mengikuti Budha. Dan ada kisah lain yang mengatakan bahwa Lao Zi adalah Budha itu sendiri.[2]

2. Ajaran Taoisme
            Inti ajaran Taoisme adalah “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat namun merupakan proses kejadian dari semua benda yang hidup dan segala benda yang ada di alam semesta. Taoisme bersifat tenang dan lembut seperti air serta bersifat abadi.manusia sampai pada keabadian jika ia sampai pada kesadaran Dao dan orang tersebut akan menjadi seperti seorang dewa. Penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai suatu kesadaran hingga ia sampai pada tahap dewa.
            Taoisme juga memperkenalkan teori Yin-Yang. Teori Yin-Yang bisa kita terjemahkan sebagai positif dan negatif. Setiap benda yang beada di dalam alam semesta; baik benda hidup maupun benda mati mengandung Yin-Yang yang saling melengkapi sehingga sampai pada keseimbangan. Seumpama sebuah magnet mempunyai unsur positif dan negatif di mana kedua-duanya saling melengkapi. Akan tetapi jika magnet tidak mempunyai unsur positif maka ia juga tidak memiliki unsur negatif. Magnet akan kehilangan maknanya jika ia kehilangan kedua unsur tersebut yakni unsur positif dan negatif.[3]
            Ajaran Yin-Yang  memandang jagat ray sebagai hasil interaksi antara dua kekuatan universal yang saling berlawanan, yakn kekuatan  “Yin” dan “Yang”. Keberadaan jagat terletak pada ketegangan antara dua kekuatan besar. “Yin” sebagai kekuatan peniada (non-being) dan ‘Yang”  sebagai kekuatan pengada (being). Segala sesuatu yang terjadi di jagat raya memiliki sisi “ada” dan “tidak ada” yang tidak lain merupakan perlawanan antara “Yin” dengan “Yang”. Dunia yang terus menerus berubah ini hanya bisa ada bila mempunyai kedua kekuatan tadi yakni ada dan tidak ada. Dengan demikian persatuan antara Yin dengan Yang muncul di jagat sebagai dua kekuatan yang saling menyusun.[4]
            Ada yang mengatakan bahwa Tao Te Ching bukanlah merupakan suatu uraian sistematis tentang suatu pandangan alam atau pandagan hidup tetapi suatu kumpulan ucapan-ucapan tentang masalah-masalah mengenai manusia dan tempatnya di dunia, yang semuanya dilihat dari pendirian tertentu. Pada mulanya ada sesuatu dalam bentuk campuran: sunyi, kekal, tidak dapat dilihat, tak dapat didengar, tak dapat diraba, tanpa rasa, tanpa nama, dll. Kita dapat menyebutnya sebagai “Jalan”. “Jalan” itu mengandung segala-galanya, di mana hal-hal yang bertentangan tercakup di dalamnya dan diselaraskan, seperti: terang dan gelap, diam dan gerak, ada dan tidak ada dan lain sebagainya.
            “Jalan” berjalan sesuai dengan kodrat alam, bergerak sampai pada puncaknya dan kemudian kembali seperti semula. Semua alam berasal dari “Jalan”, mulai dari langit dan bumi yang secara bersama-samamelahirkan benda lain. Bagi “Jalan” pertentangan, perbedaan apapun tidak berlaku. Baginya putih sama dengan hitam, terang dengan gelap, tinggi dan rendah, luas dan sempit, dan lain sebagainya. “Jalan” melebur segala pertentangan. Baginya tidak ada keindahan, tetapi juga tidak ada kejelekan, tidak ada kebaikan tetapi juga tidak ada kejahatan, tidak ada kemuliaan tetapi juga tidak ada kehinaan. Ia tidak memihak dan tidak berat sebelah, tetapi ia kosong dan justru dalam kekosongan akan tampak gunanya.[5]
            Manusia hidup di dunia dan tersesat dalam pertentangan. Manusia seharusnya bergerak mengikuti “Jalan”, sebagaimana langit dan bumi bekerja dengan sendirinya sehingga ia abadi. Demikian juga manusia jangan bertindak, jangan mendesak usahanya, jangan mengejar tujuan, jangan memuji dan mencela. Sebaliknya, manusia harus melepaskan diri dari segala macam pengetahuan yang bisa menjauhkan manusia dari “Jalan”. Manusia hendaknya mencontoh air yang selalu memilih tempat yang paling rendah. Manusia juga hendaknya seperti lembah yang mampu menampung segala-galanya; baik yang bersih maupun yang kotor. Dengan demikian maka manusia akan menjadi orang yang suci, yang tidak mempunyai keiginan, yang tidak dapat digoda oleh dunia, yang tidak mempunyai rasa benci dan takut.
            Seorang pemimpin Negara haruslah suci. Ia tidak memimpin dengan paksaan, tidak membuat larangan, tidak mengada-adakan aturan, tidak menjalankan prikemanusiaan atau keadilan, namun tanpa ia bertindak semua sudah menjadi teratur. Ia tidak mempunyai kehendak sendiri tetapi kehendaknya sama dengan kehendak rakyat. Seorang pemimpin tidak mencari kemuliaan tetapi dengan sendirinya rakyat akan memuliakannya.[6]

Tao dan Alam Semesta
            Bila manusia memiliki konsep baik maka akan timbul konsep tentang kejahatan dan bila manusia memiliki konsep baik maka akan timbul konsep tentang buruk. Perbedaan antara panjang dan pendek ada sesudah diperbandingkan, dan perbedaan antara tinggi dengan rendah ada sesudah diperbandingka. Urutan depan dan belakang juga ada sesudah diperbandingkan.
            Nilai dan konsep disusun oleh manusia dan pendapat ada sesudah diperbandingkan. Hubungan itu dapat berubah tetapi definisi tetap. Nilai perbedaan antara cantik dan buruk, punya dan tidak punya, sulit dan mudah, panjang dan pendek, tinggi dan rendah, depan dan belakang, tidak bertahan untuk selamanya. Alam semesta tidak memihak dan tidak mementingkan diri sendiri. Semua  hal diperlakukan secara sama tanpa ada menunjukkan sikap suka atau tidak suk. Orang yang bijaksana juga tidak memihak dan tidak memntingkan diri sendiri. Baginya semua adalah sama.[7]
            Manusia juga dapat belajar dari air. Orang yang berbudi luhur seumpama seperti air. Air mempunyai tiga sifat istimewa. Pertama, air dapat memberikan makanan kepada siapa saja. Kedua, karena lunak maka air tidak menentang hal-hal yang menyimpang namun membiarkan semua itu berjalan sebagaimana mestinya. Ketiga, air mengalir ke tempat yang rendah, di mana sesuatu yang bersifat rendah sering kali diremehkan oleh setiap orang. Seperti air yang tempatnya di bawah, orang yang berbudi luhur mau bersikap rendah. Seperti air yang memberikan makanan kepada siapapun secara adil menggambarkan bahwa orang yang berbudi luhur tidak pamrih untuk melakukan sesuatu. Karena sifatnya yang lemah, air dapat mengambil bentuk apapun tergantung dari tempatnya. Kalau orang bias seperti air maka ia dapat memperoleh sesuatu yang baik.[8]
            Air melambangkan suatu kebaikan yang mulia yang sungguh memberikan banyak manfaat bagi semua makhluk. Oleh sebab itu manusia dalam hidupnya hendaknya senantiasa belajar dari sifat-sifat air. Untuk lebih memahami makna kebaikan dari air, marilah sejenak kita melihat pepatah atau syair indah di bawah ini:
Kebaikan yang termulia itu bagai air,
Air itu memberi manfaat bagi semua,
Tetapi ia tidak suka bersaing,
Ia memilih tempat yang rendah, yang tak dikehendaki orang lain,
Karena itu ia dekat dengan dao.

Perbuatan itu hendaknya seperti ini:
            Untuk bermukim, pilihlah tempat yang sesuai,
            Untuk membina diri, dalamilah batinmu,
            Untuk bergaul, perlakukanlah sesamamu dengan sebaik-baiknya,
            Untuk berbicara, jagalah kepercayaan,
Untuk memerintah pakailah cara memimpin,
            Untuk membereskan masalah, bersikaplah terampil,
            Untuk bertindak, lakukanlah pada saat yang tepat
Tetapi, hanya apabila tak bersaing,
Maka semua perbuatanmua menjadi tak bercela.
            Sajak di atas menggambarkan bahwa persaingan dapat menyebabkan percekcokan dan permusuhan. Betapa baikpun tingkah laku kita, tetapi selama tindakan kita mengarah pada persaingan dengan orang lain, maka tetap saja kita tidak dapat menghindari celaan dari orang lain.[9]

Manusia dan Tao
            Bila orang yang memiliki budi luhur mendengar sesuatu hal tentang Tao, maka ia akan dengan sungguh-sungguh hidup sesuai dengan Tao. Namun jika seorang biasa mendengar tentang Tao maka ia seolah-olah memahaminya padahal sebenarnya ia tidak memahaminya. Orang yang dapat mengerti tentang Tao adalah orang yang bijaksana dan bukan orang biasa. Orang yang memiliki kemurnian sempurna tidak akan memikrkan penampilan luarnya tetapi menunjukkan isi hatinya. Tao tidak bersifat menonjolkan diri tetapi ia memiliki kekuatan untuk bertindak. Orang yang dapat melakukan hal demikian akan dapat menjadi contoh bagi dunia. Menghormati dan menghargai kebaikan ajaran Tao tidak dicari-cari tetapi terjadi secara wajar. Ajaran Tao bertindak berdasarkan kewajarannya. Ajaran Tao membiarkan segalanya tumbuh secara wajar. Ajaran Tao tidak mementingkan diri sendiri dan di sanalah letak kebesarannya.[10]
            Lao Zi mengingatkan kita bahwa; “tidak mengenal yang tetap dan bertindak secara membabi buta berarti terjerumus ke dalam bencana. Setiap orang dianjurkan untuk mengenal hukum-hukum kodrat dan melakukan kegiatannya sesuai dengan hukum kodrat tersebut. Lao Zi juga sering mengingatkan bahwa dengan menempatkan diri di belakang layar maka manusia bijaksana senantiasa mengemuka. Sesuatu yang paling sempurna tampak ada kekurangannya namun penggunaannya tidak bercela. Sesuatu yang paling penuh tampak kosong namun penggunaannya tiada habis-habisnya.
            Dalam melalui jalan manusia harussenantiasa bersikap hati-hati agar dapat hidup aman dan mencapai tujuan-tujuannya. Hal ini merupakan salah satu penyelesaian Lao Zi terhadap masalah yang dihadapi penganut Taoisme, yakni bagaimana cara melestarikan kehidupan dan menghindari kerugian serta bahaya di dunia manusia. Seseorang yang hidup hati-hati harus bersikap sabar dan  rendah hati.[11]

Kebijakan dalam Hidup
            Selama berabad-abad anggapan umum mengatakan bahwa manusia harus menunjukkan suatu sikap kuat dan tidak lemah, pandai dan tidak bodoh. Namun bagi Lao Zi tidaklah demikian. Manusia harus menunjukkan kelemahlembutan dan tidak kaku, terus terang dan tidak licik, mempunyai motif atau keinginan, tidak egois dan tidak merendah, serta berpikkiran jernih alami. Umumnya orang beranggapan bahwa bersikap kaku itu baik. Kita dapat melihat  kenyataannya bahwa yang keras akan rapuh dan yang lunak akan tetap bertahan. Sebagai contoh, gigi yang sifatnya keras pada tubuh manusia pada usia tua pasti akan rontok atau hilang. Namun lidah yang sifatnya lunak tidak akan hilang ataupun rapuh pada masa tua seseorang. Contoh lain yang dapat kita ambil yakni;  pohon besar yang berdiri kokoh kuat akan roboh jika diterpa angin namun rumput akan tetap kokoh jika sekalipun angina datang menggoncang. Air yang sifatnya lunak bias menembus celah. Melalui contoh di atas kita dapat memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang keras tidak selamanya kuat dan yang lemah memang benar-benar kuat.
            Lao Zi berpendapat bahwa untuk menjadi lembut seseorang harus rendah hati, mengalah, arif dan mampu memahami arti hidup. Pikiran sederhana mencegah rasa sombong dan segalanya sesuai dengan alam. Umumnya orang bisa melihat sesuatu secara dangkal, namun Lao Zi bias melihat intinya. Umumnya orang melihat sesuatu dari satu sisi saja namun Lao Zi bisa melihat dari sisi lain. Filsafat Lao Zi mencakup segala hal di dunia luas dan tidak berubah. Ia bertahan dalam suka dan duka. Jika menghadapi kendala, ia tidak bimbang tetapi mempelajarinya dan terus maju. Lao Zi menentang materialisme dan menganjurkan kehidupan spiritual. Dia menentang kepalsuan dan menganjurkan kebaikan alami.[12]





REFLEKSI

            Semua agama pada umumnya adalah baik, hanya saja cara dan jalan yang dipilih untuk mencapai suatu tujuan akhir berbeda-beda. Agama Kristen salah satunya, senantiasa mengajarkan hal-hal yang baik bagi segenap umat manusia khuusnya antar umat Kristen sendiri. Jika setiap umat kristiani melakukan hal-hal yang baik dan berkenan di hati Tuhan maka kelak ia akan memperoleh kebahagiaan abadi bersama Bapa di Surga. Tetapi jika ia melanggar segala aturan yang ada, di mana pelanggaran itu bertentangan dengan nilai moral kristiani maka kelak ia akan mendapat hukuman yang setimpal dengan dosa dan perbuatan yang telah dilakukannya.
            Nilai-nilai kebaikan tidak hanya ditanamkan di dalam gereja Katolik atau Kristen saja, tetapi juga nilai-nilai kebaikan itu dapat juga kita temukan dalam agama lain. Ajaran tentang Taoisme dbudaya Timur mengajarkan suatu nilai kebaikan yang harus dijalankan oleh setiap orang agar kelak ia memperoleh kebahagiaan dan keharmonisan dalam hidup. Taoisme yang dibawa oleh Lao Zimengajak setiap manusia untuk selalu bersikap sabar dan rendah hatidalam melakukan sesuatu dan dalam berhadapan dengan sesama.
            Ajaran yang terdapat dalam Taoisme mengajarkan nilai-nilai kebajikan bagi setiap umat manusia. Dengan mengikuti aturan secara teratur kita akan dapat sampai pada ketenangan batin dan kelak akan menikmati kebahagiaan. Nilai-nilai luhur yang diajarkan dan yang terdapat dalam Taoisme dapat semakin memanusiakan manusia apabila nilai-nilai luhur itu ditaati sesuai dengan perintah dan isi kitab. Ajaran yang terdapat dalam Taoisme sungguh mulia. Taoisme dalam melihat sesuatu tidak hanya melalui satu sisi saja melainkan mencoba melihat kedua sisi secara lebih mendalam. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kita tidak boleh hanya melihat tampilan lahiriah saja tetapi harus mampu melihat lebih dalam dan jauh. Taoisme juga memuat prinsip-prinsip hidup yang harus dipatuhi.
            Dalam hidup ini Taoisme mengajarkan kepada kita agar manusia dapat belajar dari alam, khususnya air. Air tidak hanya berguna bagi manusia tetapi berguna bagi setiap makhluk di bumi. Selain itu manusia juga dapat belajar dari sifat-sifat air. Bagi saya pribadi, saya mengatakan bahwa saja tidak tertutup kemungkinan bagi umat Kristen untuk membaca syair-syair indah yang terdapat dalam ajaran Taoisme. Saya katakan demikian karena syair-syair indah itu mampu menggambarkan dan memberikan inspirasi kepada kita dalam melakukan suatu kebajikan yang sesuai dengan nilai-nilai moral.



[1] Dr. Mudji Sutrisno SJ, Zen Buddhis: Ketimuran dan Paradoks Spiritual (Jakarta: Obor, 2002), hlm. 31.
[2] Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins,  Simple Taoisme: Tuntunan hidup dalam keseimbangan (Jakarta: Bhuana lmu Populer. 2000), hlm. 11-14.
[4] Dr. Mudji Sutrisno SJ, Zen Buddhis: Ketimuran…, hlm. 34-35.
[5] Tjan Tjoe Son, Tao Te Ching: Kitab tentang Jalan dan Saktinya (Jakarta: Bhratara, 1962). Hlm. 14-15.
[6] Tjan Tjoe Son, Tao Te Ching: Kitab tentang Jalan…, hlm. 16-17.

[7] Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian Orang Bijak, buku I (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 13-17.

[8] Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian…, hlm. 20-21.
[9] Tjan K, DAODEJING: Kitab Kebijakan dan Kebajikan (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007), hlm. 8.
[10] Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian Orang Bijak, buku II (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 13-17.

[11]  Soejono Soemargono, Sejarah Ringkas Filsafat Cina: Sejak Konfucius sampai Han Fei Tzu (Yogyakarta: Liberty, 1990), hlm. 130-131.
[12] Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian…, hlm. 2-5.