Jumat, 01 Juni 2012

KERAJAAN ALLAH (Rufinus Nikolaus, N.)



 
I. Pendahuluan.
            Kerajaan Allah merupakan tujuan dari perutusan Yesus. Pewartaan Kerajaan Allah oleh Yesus Kristus sangat tampak dalam teks Kitab Suci Perjanjian Baru yang mengatakan: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1: 14-15). Untuk memahami suatu misi yang mengarah kepada perutusan Yesus, kita harus mengingat kembali perkembangan harapan bangsa Israel akan datangnya Kerajaan Allah. Kita sebagai seorang manusia yang percaya kepada Allah senantiasa mengalami perkembangan dalam hidup seiring dengan tantangan yang kita hadapi dalam sejarah hidup kita. Dalam hidup kita dituntut untuk selalu setia akan apa yang kita imani. Jika kita tidak setia akan apa yang kita imani maka kita akan kehilangan pegangan hidup.
            Demikian halnya dengan Bangsa Israel pada masa perjanjian lama, memiliki suatu harapan yang pasti akan penantian datangnya Kerajaan Allah. Bangsa Israel berharap agar kiranya janji itu nyata terwujud. Bangsa Israel menginginkan suatu keselamatan agar mereka merasa aman dan damai. Maka dari itu mereka sangat membutuhkan rahmat dari Allah, agar Allahlah yang meraja dan tinggal dalam kehidupan mereka. Harapan bangsa Israel akan datangnya Kerajaan Allah dibangun atas dasar janji Allah Sang Pencipta yang berkuasa atas sejarah.[1] Kini, Kerajaan Allah sudah berkembang  bagaikan ragi dalam roti. Kita dituntut untuk setia pada janji Allah. Bila kita setia maka kita akan selamat dan kelak berbahagia bersama Allah.

II. Apa itu Kerajaan Allah.
2.1 Pemahaman Kerajaan Allah  dalam Masyarakat Yahudi.
            Inti dari seluruh kesaksian yesus adalah Kerajaan Allah. Selama bertahun-tahun Yesus berkhotbah dan mengajar dengan pokok bahasan yang tunggal, yakni mengenai KerajaanAllah. Maka di sini kita akan melihat apa yang diartikan dengan Kerajaan Allah.
            Yesus tinggal di tengah-tengah masyarakat yahudi. Dalam masyarakat Yahudi tempat Yesus dibesarkan terdapat berbagai anggapan tentang kerajaan Allah. Dalam hal ini istilah Aram yang digunakan adalah malkuth yang berarti pemerintahan raja. Namun istilah ini bukanlah menggambarkan tempat atau wilayah dalam arti yang statis melainkan menggambarkan tindakan atau kewibawaan dalam arti yang dinamis. Pada masa ini dapat digambarkan tiga bentuk anggapan tentang Kerajaan Allah, yaitu:
1.      Kerajaan Allah digambarkan dengan kekuasaan Allah yang tidak dibatasi oleh apapun, artinya kekuasaan Allah yang tidak terbatas. Hal ini dapat kita bandingkan dengan mazmur 145:13.
2.      Kerajaan Allah sebagai buah ketaatan umat kepada Allah sebagai mana hal ini juga senantiasa diajarkan oleh para nabi.
3.      Anggapan ketiga menggambarkan Kerajaan Allah sebagai suatu pengharapan iman atau tujuan akhir dari iman.[2]

Kerajaan Allah tidak berhubungan dengan masalah tempat, misalnya kerajaan Inggris atau kerajaan lainnya; ataupun seperti gereja, dan juga bukan seperti suatu keadaan masa depan seperti Kerajaan Surga, meskipun mencakup hal-hal yang demikian. Sebaliknya, hal ini menunjuk pada suatu klekuasaan yang tak terbatas, dimana Allah memerintah dan meraja. Para penulis Kitab Suci Perjanjian Baru melihat bahwa kehidupan Yesus menggambarkan Allah yang datang kedunia melalui Yesus Kristus untuk mendirikan Kerajaan-Nya. Kristus datang ke dunia untuk memberikan keselamatan kepada masyarakat yang tertindas dan menciptakan perdamaian bagi seluruh umat manusia sebagai ciptaan Allah. Yesus hadir untuk memberikan pemulihan bagi kehidupan umat manusia dan mempersatukan seluruh umat manusia. Allah akan senantiasa hadir dalam setiap usaha manusia; baik secara fisik maupun spiritual, intelektual dan emosional, budaya dan sosial. Roh Allah senantiasa hadir dalam diri Yesus Kristus.[3]

2.2 Pandangan Yesus tentang Kerajaan allah.
            Di dalam Injil Sinoptik Yesus sudah menekankan bahwa Kerajaan Allah sudah dimulai dan sudah ada. Dalam Mrk 4: 11 Yesus berkata kepada para murid “Kepadamu telah diberikan rahasia kerajaan Allah…”, sedangkan kepada orang Farisi Yesus berkata “Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17:21). Yesus Kristus dalam Sabda Bahagia juga memberi pengajaran dengan berkata “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk 6:20. dengan melihat beberapa perumpamaan di atas, Yesus mau mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah sebuah suasana hati dan bukan suatu pengharapan untuk masa yang akan datang melainkan suatu tindakan Allah untuk memulai babak baru dalam sejarah, yang sudah dimulai dari sekarang.[4]
            Kerajaan Allah sudah datang dalam diri dan tindakan Yesus. Hal ini tampak dalam Luk 11: 20 yang mengatakan “tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Walaupun demikian, timbul pertanyaan tentang Kerajaan Allah, yakni kalau memang Kerajaan Allah sudah datang mengapa Yesus menyuruh paramurid berdoa dengan berkata: “Bapa kami yang ada di Surga…, dimuliakanlah nama-Mu…(Mat 6: 9-10)? Dalam hal ini sebenarnya Yesus mau mengajarkan beberapa hal, yakni: pertama, Kerajaan Allah sudah dimulai namun belum digenapi, sudah ada namun belum lengkap. Kedua, yang mendatangkan Kerajaan Allah bukanlah kita melainkan Bapa. Kerajaan Allah merupakan pemberian dan anugerah dari Allah. Ketiga, pemberian itu perlu ditanggapi oleh kita manusia dengan penuh kerendahan hati dan keterbukaan memohon datangnya Kerajaan Allah.
            Jadi Kerajaan Allah bukanlah menggambarkan suatu persekutuan umat sebab Kerajaan Allah tidak ditandai dengan keberadaan orang. Kerajaan Allah juga bukan menggambarkan suasana hati sebab pemerintahan Allah juga tidak tergantung dari keberadaan manusia. Kerajaan Allah juga bukan menggambarkan soal kehidupan sesudah kematian sebab pemerintahan Allah justru sudah dimulai dari sekarang di bumi ini. Tetapi Kerajaan Allah merupakan intervensi Allah Bapa bagi kehidupan manusia di bumi di mana Allah mengubah jalannya sejarah manusia menuju jalan lain. Hal ini ditandai dengan datangnya Yesus Kristus ke dunia untuk memberikan kesaksian. Manusia diundang oleh Allah untuk menaggapi kesaksian tersebut dengan meninggalkan kehidupan yang lama menuju kehidupan yang baru. Kerajaan yang baru itu diperintah oleh Allah.[5]

2.3 Visi Kerajaan Allah
            Visi merupakan suatu penglihatan ke depan yang memberi arah dan tuntunan pada langkah dan sikap kita. Visi merupakan suatu keadaan yang belum tercapai tetapi kita berusaha mencapainya dengan segala perjuangan dan pengorbanan. Visi sangat berhubungan dengan pengharapan kita sebab visi bisa menjadi pendorong untuk mencapai tujuan. Maka dari itu untuk dapat mengikuti Yesus kita harus mengetahui dan mengenal visi dari yesus Kristus. Seluruh pengajaran yesus selalu menunjuk pada Kerajaan Allah. Di dalam ajaran tentang pemenuhan Kerajaan Allah yang akan datang, kita dapat menemukan visi dari pelayanan Yesus. Seluruh ajaran, tindakan dan sikap Yesus selalu mengarah kepada terpenuhinya Kerajaan Allah.
            Kelahiran, kematian dan kebangkitan Yesus merupakan suatu tahapan untuk pemenuhan misi pelayanan Yesus untuk mewujudkan Kerajaan Allah. Tugas mewuudkan Kerajaan Allah di dunia merupakan misi Kristus. Maka dari itu semua orang yang dipanggil untuk mengikuti Yesus harus bersama-sama mewujudkan visi kerajaan Allah. Pelayanan tanpa visi berarti pelayanan yang tanpa pengharapan. Visi orang yang percaya kepada Kristus bukanlah sekadar bangunan gereja yang mewah, banyaknya orang yang dibabtis atau besarnya pengaruh kekuasaan politik orang kristen, tetapi visi orang yang percaya adalah mewujudkan Kerajaan Allah di bumi.[6]

2.4 Dialog sebagai usaha untuk membangun Kerajaan Allah
            Dialog merupakan salah satu sikap partisipasi aktif dan wujud konkret dalam membangun Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu bertumbuh sejauh orang berbalik kepada Allah dan dalam suasana keakraban berdoa kepada-Nya dan berusaha untuk melakukan kehendak-Nya. Kerajaan Allah merupakan wujud keselamatan yang sudah dipersiapkan oleh Allah dalam perjanjian lama, dilaksanakan oleh Yesus kristus dan di dalam Kristus serta diberikan kepada semua orang oleh gereja.[7]
            Kerajaan Allah terpenuhi dalam kepercayaan kepada misteri Bapa dan misteri cinta-Nya, yang dianugerahkan secara bebas dalam diri Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Rencana keselamatan Allah diwujudkan oleh Yesus Kristus. Oleh sebab itu, Yesus menghadirkan Kerajaan Allah. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, perwujudan rencana keselamatan Allah mendapatkan kesempurnaan. Itulah sebabnya, kerajaan yang diwartakan dan didirikan oleh Kristus ialah kerajaan Allah. Dekatnya kerajaan Allah dimaksudkan dengan kerajaan yang telah dimulai oleh Yesus Kristus saat ini dalam sejarah hidup manusia. Artinya, realitas kerajaan Allah sedang terjadi, berlangsung dan menyejarah.
            Kerajaan Allah diperuntukkan bagi seluruh umat manusia dan semuanya dipanggil untuk menjadi anggota Kerajaan itu. Keselamatan yang diahdirkan oleh Kerajaan Allah merangkum seluruh dimensi-dimensi rohani dan jasmani kehidupan manusia. Kerajaan Allah tumbuh diantara umat manusia; oleh karena itu, hakekat dari Kerajaan itu ialah suatu persekutuan diantara seluruh umat manusia.
            Gereja memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Allah, sebab didalam gereja ada sarana keselamatan. Gereja mewartakan Kerajaan Allah bila ia mewartakan Kristus. Secara prinsipial Kerajaan Allah diwahyukan dalam pribadi Kristus sendiri. Dalam hal ini, ada kesinambungan antara Kerajaan yang diwartakan Kristus dan misteri Kristus yang diwartakan gereja. Karena gereja mengungkapkan keselamatan Kristus, maka bisa dikatakan gereja merupakan benih dan awal Kerajaan Allah. Sangatlah tidak tepat bila gereja dipandang secara terpisah dengan Kerajaan Allah.[8]

2.5 Perumpaman Yesus tentang Kerajaan Allah
            Keberadaan Kerajaan Allah tidak dapat dilihat siapapun, bahkan oleh para Rasul sendiri. Akan tetapi, Allah mewahyukan diri-Nya secara langsung dalam diri Yesus Kristus yang penuh dengan kemuliaan dan kekuasaan. Kemuliaan Allah dalam diri Yesus Kristus dapat kita lihat pada peristiwa Gunung Tabor. Peristiwa Gunung Tabor meninggalkan kenangan mengenai hubungan Allah dengan kedatangan Kerajaan-Nya. Beberapa ayat dalam teks kitab suci khususnya injil sinoptik memberikan gambaran tentang Kerajaan Allah, seperti Mrk 9:1; mengatakan “Ada beberapa diantara kamu di sini, yang tidak akan merasakan kematian, sampai mereka melihat Kerajaan Allah datang dengan kuasa.” Mat 16: 28 mengatakan “sampai mereka melihat Anak Manusia datang dalam Kerajaan-Nya”. Luk 9:27 mengatakan, “sampai mereka melihat Kerajaan Allah”. Melalui kutipan Injil ini, jelaslah  bahwa inti dari pesan Yesus adalah Kerajaan Allah.[9]
            Kerajaan Allah senantiasa berlanjut di bumi. Kerajaan Allah bisa juga kita kondisikan dengan hidup dalam Tuhan dan mengikuti perintah-Nya dalam kebenaran. Yesus Kristus juga memberikan ide tentang Kerajaan Allah dengan berbagai perumpamaan seperti perumpamaan tentang biji sesawi, perumpamaan tentang ragi, perumpamaan tentang harta yang tersembunyi dan perumpamaan tentang mutiara yang hilang. Dalam Sabda Bahagia, kita dapat melihat bahwa Kerajaan Allah diberikan bagi orang yang miskin dan menderita penganiayaan demi kebenaran. Hal penting yang perlu kita ingat adalah pernyataan bahwa “Kerajaan Allah ada dalam diri kita”. Kerajaan Allah hadir dalam diri orang-orang yang percaya kepada Kristus dan hidup menurut kehendak-Nya dalam gereja-Nya, dan dalam kuasa Roh Kudus. Kerajaan Allah itu kekal dan hadir di tengah umat manusia sampai pada zaman yang akan datang.[10]
            Kisah yang diungkapkan Yesus dalam perumpamaan menggambarkan kasih Allah kepada manusia dan Allah yang murah hati serta pengampun. Allah memperhatikan orang miskin, pendosa, orang sakit dan orang yang tersingkir. Kasih Allah bersifat universal. Allah senantiasa mengampuni orang berdosa seumpama seorang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan domba untuk menemukan satu domba yang hilang. Allah juga seumpama seorang perempuan yang dengan cermat mencari dirham yang hilang. Allah juga seperti seorang bapak yang lari keluar rumah untuk menyambut anaknya yang tidak patut.[11]
            Kerajaan Allah telah membentuk paradigma baru yang berpusatkan pada Kerajaan Allah. Artinya, sejarah keselamatan tidak lagi disempitkan bagi penekanan peranan gereja dengan segala kebijakan-kebijakan pastoralnya, melainkan lebih mengedepankan partisipasi umat. Sejarah keselamatan terarah pada persatuan dengan Allah dan manusia. Maka dari itu, peranan aktif bagi manusia secara pribadi sangat dibutuhkan. Kerajaan itu merupakan urusan setiap orang, yaitu pribadi-pribadi, masyarakat dan dunia. Bekerja bagi Kerajaan Allah berarti mengakui dan memajukan kegiatan Allah yang hadir dalam sejarah manusia serta mengubah sejarah itu. Membangun Kerajaan Allah berarti bekerja demi pembebasan dari  segala bentuk kejahatan, sebab Kerajaan Allah itu merupakan perwujudan nyata dari rencana Allah dalam segala kepenuhan-Nya.[12]

III. Penutup
            Pewahyuan Allah dalam diri Kristus memberikan pertanyaan kepada kita, siapakah kita sebenarnya? Dan sejarah macam apa yang kita bentuk di dunia ini? Pewahyuan Allah dalam diri Kristus memberikan penjelasan tentang masa depan kita dan untuk masa depan itulah kita dipanggil. Masalah yang sulit bagi iman Kristiani bukanlah realitas Allah dan bukan juga realitas Allah yang menjadi manusia dalam pribadi Yesus, tetapi realitas itu sendiri. Apakah arti hidup ini sehingga Roh Allah menerangi, menguatkan dan menyucikan kita.
            Benarkah Allah telah memilih tinggal bersama kita? Jawabannya adalah “Ya”. Allah mencintai setiap manusia. Allah memanggil kita untuk hidup bersama Dia dan mengalami nasib-Nya. Allah memanggil kita pada kepenuhan hidup dan kasih dalam Kerajaan Allah. Itulah kabar baik yang senantiasa menopang harapan kita. Kerajaan Allah berasal dari Allah bukan dari manusia. Oleh sebab itu, tentu Kerajaan Allah tidak akan pernah binasa sampai selama-lamanya. Sebab, Allah senantiasa hadir dalam panggung sejarah umat manusia.









Daftar Pustaka


Armada, Riyanto.E. Dialog Interreligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
           
Hentz, Otto. Pengharapan Kristen: Kebebasan, Kerajaan Allah, Akhir Zaman Kematian, Kebangkitan, Neraka,Pemurnian, Keabadian, Penghakiman. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
Ismail, Andar. Selamat Berkiprah: 33 Renungan tentang kesaksian.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Jao, Greg. The Kingdom Of God: 10 Studies for Individuals or Goups. United States of America: Inter Varsity Press, 2003.
P. Widyatmadja, Josef. Yesus dan Wong Cilik: Praktis Diakonia Transformatif dan teologi rakyat di Indonesia.  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.

Royster, Dmitri. The Kingdom of God; The Sermon on The Mount.  New York: St. Vladimirs Seminary Press, 1992.
           



[1] Otto Hentz, Pengharapan Kristen: Kebebasan, Kerajaan Allah, Akhir Zaman Kematian, Kebangkitan, Neraka,Pemurnian, Keabadian, Penghakiman (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hlm. 43-44.
[2] Andar Ismail, Selamat Berkiprah: 33 Renungan tentang kesaksian (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hlm. 60.
                [3] Greg Jao, The Kingdom Of God: 10 Studies for Individuals or Goups (United States of America: Inter Varsity Press, 2003), hlm. 6-7.
[4] Andar Ismail, Selamat Berkiprah…, hlm. 60-61.
[5] Andar Ismail, Selamat Berkiprah…, hlm. 61-62.
[6] Josef  P. Widyatmadja, Yesus dan Wong Cilik: Praktis Diakonia Transformatif dan teologi rakyat di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), hlm. 122.
[7] E. Armada Riyanto, Dialog Interreligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah (Yogyakarta: Kanisius, 2010), hlm. 198-199.
                [8] E. Armada Riyanto, Dialog Interreligius…, hlm. 199-200.
                [9] Dmitri Royster, The Kingdom of God; The Sermon on The Mount (New York: St. Vladimirs Seminary Press, 1992), hlm. 15.  
                [10] Dmitri Royster, The Kingdom of God…, hlm. 17-18.
                [11]  Otto Hentz, Pengharapan Kristen: Kebebasan…, hlm. 51-52.
                [12]  E. Armada Riyanto, Dialog Interreligius…, hlm. 201.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar