Jumat, 01 Juni 2012

T A O I S M E (oleh: Rufinus Nikolaus. N)




Pengantar
            Ajaran Tao merupakan sebuah filsafat mengenai suatu jalan untuk mengikuti alam, yang dirintis oleh seorang tokoh bernama Lao Zi. Lao Zi mengajarkan bahwa hidup sederhana dan harmonis sangatlah penting. Dengan demikian suatu sikap hidup yang selalu mencari keuntungan mesti dilepas dan hendaknya manusia mampu mengatur nafsu di dalam diri. Situasi yang penuh dengan keprihatinan memberi suatu harapan untuk lahirnya ajaran Tao yang menekankan kedamaian dan keharmonisan.
            Pada waktu itu ketamakan dan nafsu untuk berkuasa sungguh menguasai Cina sehingga hal ini membawa suatu penderitaan yang besar bagi masyarakat. Lao Zi yakin bahwa semakin manusia dikuasai oleh ketamakan dan hawa nafsu maka harapan untuk mencapai kedamaian dan kegembiraan serta keharmonisan semakin sulit untuk didapatkan. Maka dari itu Lao Zi menganjurkan suatu prinsip hidup yang selaras dengan alam.[1] Maka dalam tugas ini saya mencoba memaparkan sedikit ajaran tentang Tao. Ajaran tentang Tao sungguh menarik perhatian saya untuk membahasnya karena berisi nilai-nilai kebajikan yang patut dipatuhi oleh setiap manusia.

I. Riwayat Hidup Pendiri Taoisme
            Untuk mengetahui perkembangan Taoisme, telah banyak ahli melakukan penelitian dan mencari fakta tentang berdiri dan berkembangnya Taoisme. Mereka mencoba meneliti sejarah dan perkembangan aliran ini serta mencari siapa tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Namun karena banyak kelainan dalam tradisi sejarah maka sifat alami dari Taoisme itu masih banyak yang belum diketahui.
            Lao Zi adalah seorang laki-laki yang penuh dengan misteri. Ia lahir kira-kira tahun 604 sM. Lao Zi dikenal sebagai tokoh legendaris penulis kitab Tao Te Ching. Menurut cerita, Lao Zi tumbuh dewasa di dalam rahin ibunya selama 62 tahun. Ketika lahir ia sudah menjadi seorang laki-laki dewasa dengan rambut putih dan daun telinga yang panjang. Lao Zi bekerja di ibu kota Loyang sebagai penjaga arsip di istana kerajaan Chou. Selama ia bekerja sebagai penjaga arsip kerajaan, ia tahu banyak tentang adat kebiasaan Kaisar Kuning (2697 sM) dan semua karya agung yang ada pada masa itu. Ketika ia bertemu dengan Konfusius, ia telah berumur 50 tahun lebih tua daripada Konfusius. Konfusius pernah memohon kepada Lao Zi agar ia diajari ritual dalam berprilaku. Dengan kata lain dapatdikatakan bahwa Konfusius pernah berguru dan menjadi murid Lao Zi.
            Ada tradisi yang mengatakan bahwa ketika Lao Zi menikah ia dikaruniakan seorang anak bernama Tsung yang akhirnya menjadi seorang tentara yang amat terkenal. Namun banyak juga tradisi berikut yang mengaku sebagai keturunan Lao Zi tetapi tidak dapat dipastikan apakah  hal itu memang benar. Dipercayai bahwa Lao Zi tidak pernah membuka aliran resmi, tetapi banyak murid yang berduyun-duyun datang menghampirinya sehingga akhirnya ia memiliki sejumlah pengikut yang setia. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa hidupnya penuh dengan kesibukan.
            Kendati demikian, Lao Zi merasa sedikit frustasi akibat terjadinya kemerosotan nilai moral dalam masyarakat. Kehidupan kota membuat dia merasatidak mungkin hidup selaras dengan kepercayaan Taoisnya. Maka akhirnya pada usia yang sudah sangat lanjut; kira-kira berumur 160 tahun, ia memutuskan untuk meninggalkan kota ke wilayah barat yang tidak berpenghuni untuk menjalani hidup menyendiri sebagai seorang pertapa. Ketika sampai di pintu gerbang penjaga pintu memohon kepadanya agar meningglkan sejumlah catatan yang memuat kebijaksanaan. Akhirnya Lao Zi duduk dan menyusun buku yang terdiri dari 5.000 huruf yang sekarang dikenal dengan Tao Te Jing. Si penjaga gerbang sangat tergerak akan isi buku tersebut sehingga ia memutuskan untuk menemani Laozi dalam perjalanannya. Keduanya akhirnya menghilang dan tidak pernah muncul kembali. Ada legenda yang mengatakan bahwa Lao Zi muncul di India untuk mengikuti Budha. Dan ada kisah lain yang mengatakan bahwa Lao Zi adalah Budha itu sendiri.[2]

2. Ajaran Taoisme
            Inti ajaran Taoisme adalah “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat namun merupakan proses kejadian dari semua benda yang hidup dan segala benda yang ada di alam semesta. Taoisme bersifat tenang dan lembut seperti air serta bersifat abadi.manusia sampai pada keabadian jika ia sampai pada kesadaran Dao dan orang tersebut akan menjadi seperti seorang dewa. Penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai suatu kesadaran hingga ia sampai pada tahap dewa.
            Taoisme juga memperkenalkan teori Yin-Yang. Teori Yin-Yang bisa kita terjemahkan sebagai positif dan negatif. Setiap benda yang beada di dalam alam semesta; baik benda hidup maupun benda mati mengandung Yin-Yang yang saling melengkapi sehingga sampai pada keseimbangan. Seumpama sebuah magnet mempunyai unsur positif dan negatif di mana kedua-duanya saling melengkapi. Akan tetapi jika magnet tidak mempunyai unsur positif maka ia juga tidak memiliki unsur negatif. Magnet akan kehilangan maknanya jika ia kehilangan kedua unsur tersebut yakni unsur positif dan negatif.[3]
            Ajaran Yin-Yang  memandang jagat ray sebagai hasil interaksi antara dua kekuatan universal yang saling berlawanan, yakn kekuatan  “Yin” dan “Yang”. Keberadaan jagat terletak pada ketegangan antara dua kekuatan besar. “Yin” sebagai kekuatan peniada (non-being) dan ‘Yang”  sebagai kekuatan pengada (being). Segala sesuatu yang terjadi di jagat raya memiliki sisi “ada” dan “tidak ada” yang tidak lain merupakan perlawanan antara “Yin” dengan “Yang”. Dunia yang terus menerus berubah ini hanya bisa ada bila mempunyai kedua kekuatan tadi yakni ada dan tidak ada. Dengan demikian persatuan antara Yin dengan Yang muncul di jagat sebagai dua kekuatan yang saling menyusun.[4]
            Ada yang mengatakan bahwa Tao Te Ching bukanlah merupakan suatu uraian sistematis tentang suatu pandangan alam atau pandagan hidup tetapi suatu kumpulan ucapan-ucapan tentang masalah-masalah mengenai manusia dan tempatnya di dunia, yang semuanya dilihat dari pendirian tertentu. Pada mulanya ada sesuatu dalam bentuk campuran: sunyi, kekal, tidak dapat dilihat, tak dapat didengar, tak dapat diraba, tanpa rasa, tanpa nama, dll. Kita dapat menyebutnya sebagai “Jalan”. “Jalan” itu mengandung segala-galanya, di mana hal-hal yang bertentangan tercakup di dalamnya dan diselaraskan, seperti: terang dan gelap, diam dan gerak, ada dan tidak ada dan lain sebagainya.
            “Jalan” berjalan sesuai dengan kodrat alam, bergerak sampai pada puncaknya dan kemudian kembali seperti semula. Semua alam berasal dari “Jalan”, mulai dari langit dan bumi yang secara bersama-samamelahirkan benda lain. Bagi “Jalan” pertentangan, perbedaan apapun tidak berlaku. Baginya putih sama dengan hitam, terang dengan gelap, tinggi dan rendah, luas dan sempit, dan lain sebagainya. “Jalan” melebur segala pertentangan. Baginya tidak ada keindahan, tetapi juga tidak ada kejelekan, tidak ada kebaikan tetapi juga tidak ada kejahatan, tidak ada kemuliaan tetapi juga tidak ada kehinaan. Ia tidak memihak dan tidak berat sebelah, tetapi ia kosong dan justru dalam kekosongan akan tampak gunanya.[5]
            Manusia hidup di dunia dan tersesat dalam pertentangan. Manusia seharusnya bergerak mengikuti “Jalan”, sebagaimana langit dan bumi bekerja dengan sendirinya sehingga ia abadi. Demikian juga manusia jangan bertindak, jangan mendesak usahanya, jangan mengejar tujuan, jangan memuji dan mencela. Sebaliknya, manusia harus melepaskan diri dari segala macam pengetahuan yang bisa menjauhkan manusia dari “Jalan”. Manusia hendaknya mencontoh air yang selalu memilih tempat yang paling rendah. Manusia juga hendaknya seperti lembah yang mampu menampung segala-galanya; baik yang bersih maupun yang kotor. Dengan demikian maka manusia akan menjadi orang yang suci, yang tidak mempunyai keiginan, yang tidak dapat digoda oleh dunia, yang tidak mempunyai rasa benci dan takut.
            Seorang pemimpin Negara haruslah suci. Ia tidak memimpin dengan paksaan, tidak membuat larangan, tidak mengada-adakan aturan, tidak menjalankan prikemanusiaan atau keadilan, namun tanpa ia bertindak semua sudah menjadi teratur. Ia tidak mempunyai kehendak sendiri tetapi kehendaknya sama dengan kehendak rakyat. Seorang pemimpin tidak mencari kemuliaan tetapi dengan sendirinya rakyat akan memuliakannya.[6]

Tao dan Alam Semesta
            Bila manusia memiliki konsep baik maka akan timbul konsep tentang kejahatan dan bila manusia memiliki konsep baik maka akan timbul konsep tentang buruk. Perbedaan antara panjang dan pendek ada sesudah diperbandingkan, dan perbedaan antara tinggi dengan rendah ada sesudah diperbandingka. Urutan depan dan belakang juga ada sesudah diperbandingkan.
            Nilai dan konsep disusun oleh manusia dan pendapat ada sesudah diperbandingkan. Hubungan itu dapat berubah tetapi definisi tetap. Nilai perbedaan antara cantik dan buruk, punya dan tidak punya, sulit dan mudah, panjang dan pendek, tinggi dan rendah, depan dan belakang, tidak bertahan untuk selamanya. Alam semesta tidak memihak dan tidak mementingkan diri sendiri. Semua  hal diperlakukan secara sama tanpa ada menunjukkan sikap suka atau tidak suk. Orang yang bijaksana juga tidak memihak dan tidak memntingkan diri sendiri. Baginya semua adalah sama.[7]
            Manusia juga dapat belajar dari air. Orang yang berbudi luhur seumpama seperti air. Air mempunyai tiga sifat istimewa. Pertama, air dapat memberikan makanan kepada siapa saja. Kedua, karena lunak maka air tidak menentang hal-hal yang menyimpang namun membiarkan semua itu berjalan sebagaimana mestinya. Ketiga, air mengalir ke tempat yang rendah, di mana sesuatu yang bersifat rendah sering kali diremehkan oleh setiap orang. Seperti air yang tempatnya di bawah, orang yang berbudi luhur mau bersikap rendah. Seperti air yang memberikan makanan kepada siapapun secara adil menggambarkan bahwa orang yang berbudi luhur tidak pamrih untuk melakukan sesuatu. Karena sifatnya yang lemah, air dapat mengambil bentuk apapun tergantung dari tempatnya. Kalau orang bias seperti air maka ia dapat memperoleh sesuatu yang baik.[8]
            Air melambangkan suatu kebaikan yang mulia yang sungguh memberikan banyak manfaat bagi semua makhluk. Oleh sebab itu manusia dalam hidupnya hendaknya senantiasa belajar dari sifat-sifat air. Untuk lebih memahami makna kebaikan dari air, marilah sejenak kita melihat pepatah atau syair indah di bawah ini:
Kebaikan yang termulia itu bagai air,
Air itu memberi manfaat bagi semua,
Tetapi ia tidak suka bersaing,
Ia memilih tempat yang rendah, yang tak dikehendaki orang lain,
Karena itu ia dekat dengan dao.

Perbuatan itu hendaknya seperti ini:
            Untuk bermukim, pilihlah tempat yang sesuai,
            Untuk membina diri, dalamilah batinmu,
            Untuk bergaul, perlakukanlah sesamamu dengan sebaik-baiknya,
            Untuk berbicara, jagalah kepercayaan,
Untuk memerintah pakailah cara memimpin,
            Untuk membereskan masalah, bersikaplah terampil,
            Untuk bertindak, lakukanlah pada saat yang tepat
Tetapi, hanya apabila tak bersaing,
Maka semua perbuatanmua menjadi tak bercela.
            Sajak di atas menggambarkan bahwa persaingan dapat menyebabkan percekcokan dan permusuhan. Betapa baikpun tingkah laku kita, tetapi selama tindakan kita mengarah pada persaingan dengan orang lain, maka tetap saja kita tidak dapat menghindari celaan dari orang lain.[9]

Manusia dan Tao
            Bila orang yang memiliki budi luhur mendengar sesuatu hal tentang Tao, maka ia akan dengan sungguh-sungguh hidup sesuai dengan Tao. Namun jika seorang biasa mendengar tentang Tao maka ia seolah-olah memahaminya padahal sebenarnya ia tidak memahaminya. Orang yang dapat mengerti tentang Tao adalah orang yang bijaksana dan bukan orang biasa. Orang yang memiliki kemurnian sempurna tidak akan memikrkan penampilan luarnya tetapi menunjukkan isi hatinya. Tao tidak bersifat menonjolkan diri tetapi ia memiliki kekuatan untuk bertindak. Orang yang dapat melakukan hal demikian akan dapat menjadi contoh bagi dunia. Menghormati dan menghargai kebaikan ajaran Tao tidak dicari-cari tetapi terjadi secara wajar. Ajaran Tao bertindak berdasarkan kewajarannya. Ajaran Tao membiarkan segalanya tumbuh secara wajar. Ajaran Tao tidak mementingkan diri sendiri dan di sanalah letak kebesarannya.[10]
            Lao Zi mengingatkan kita bahwa; “tidak mengenal yang tetap dan bertindak secara membabi buta berarti terjerumus ke dalam bencana. Setiap orang dianjurkan untuk mengenal hukum-hukum kodrat dan melakukan kegiatannya sesuai dengan hukum kodrat tersebut. Lao Zi juga sering mengingatkan bahwa dengan menempatkan diri di belakang layar maka manusia bijaksana senantiasa mengemuka. Sesuatu yang paling sempurna tampak ada kekurangannya namun penggunaannya tidak bercela. Sesuatu yang paling penuh tampak kosong namun penggunaannya tiada habis-habisnya.
            Dalam melalui jalan manusia harussenantiasa bersikap hati-hati agar dapat hidup aman dan mencapai tujuan-tujuannya. Hal ini merupakan salah satu penyelesaian Lao Zi terhadap masalah yang dihadapi penganut Taoisme, yakni bagaimana cara melestarikan kehidupan dan menghindari kerugian serta bahaya di dunia manusia. Seseorang yang hidup hati-hati harus bersikap sabar dan  rendah hati.[11]

Kebijakan dalam Hidup
            Selama berabad-abad anggapan umum mengatakan bahwa manusia harus menunjukkan suatu sikap kuat dan tidak lemah, pandai dan tidak bodoh. Namun bagi Lao Zi tidaklah demikian. Manusia harus menunjukkan kelemahlembutan dan tidak kaku, terus terang dan tidak licik, mempunyai motif atau keinginan, tidak egois dan tidak merendah, serta berpikkiran jernih alami. Umumnya orang beranggapan bahwa bersikap kaku itu baik. Kita dapat melihat  kenyataannya bahwa yang keras akan rapuh dan yang lunak akan tetap bertahan. Sebagai contoh, gigi yang sifatnya keras pada tubuh manusia pada usia tua pasti akan rontok atau hilang. Namun lidah yang sifatnya lunak tidak akan hilang ataupun rapuh pada masa tua seseorang. Contoh lain yang dapat kita ambil yakni;  pohon besar yang berdiri kokoh kuat akan roboh jika diterpa angin namun rumput akan tetap kokoh jika sekalipun angina datang menggoncang. Air yang sifatnya lunak bias menembus celah. Melalui contoh di atas kita dapat memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang keras tidak selamanya kuat dan yang lemah memang benar-benar kuat.
            Lao Zi berpendapat bahwa untuk menjadi lembut seseorang harus rendah hati, mengalah, arif dan mampu memahami arti hidup. Pikiran sederhana mencegah rasa sombong dan segalanya sesuai dengan alam. Umumnya orang bisa melihat sesuatu secara dangkal, namun Lao Zi bias melihat intinya. Umumnya orang melihat sesuatu dari satu sisi saja namun Lao Zi bisa melihat dari sisi lain. Filsafat Lao Zi mencakup segala hal di dunia luas dan tidak berubah. Ia bertahan dalam suka dan duka. Jika menghadapi kendala, ia tidak bimbang tetapi mempelajarinya dan terus maju. Lao Zi menentang materialisme dan menganjurkan kehidupan spiritual. Dia menentang kepalsuan dan menganjurkan kebaikan alami.[12]





REFLEKSI

            Semua agama pada umumnya adalah baik, hanya saja cara dan jalan yang dipilih untuk mencapai suatu tujuan akhir berbeda-beda. Agama Kristen salah satunya, senantiasa mengajarkan hal-hal yang baik bagi segenap umat manusia khuusnya antar umat Kristen sendiri. Jika setiap umat kristiani melakukan hal-hal yang baik dan berkenan di hati Tuhan maka kelak ia akan memperoleh kebahagiaan abadi bersama Bapa di Surga. Tetapi jika ia melanggar segala aturan yang ada, di mana pelanggaran itu bertentangan dengan nilai moral kristiani maka kelak ia akan mendapat hukuman yang setimpal dengan dosa dan perbuatan yang telah dilakukannya.
            Nilai-nilai kebaikan tidak hanya ditanamkan di dalam gereja Katolik atau Kristen saja, tetapi juga nilai-nilai kebaikan itu dapat juga kita temukan dalam agama lain. Ajaran tentang Taoisme dbudaya Timur mengajarkan suatu nilai kebaikan yang harus dijalankan oleh setiap orang agar kelak ia memperoleh kebahagiaan dan keharmonisan dalam hidup. Taoisme yang dibawa oleh Lao Zimengajak setiap manusia untuk selalu bersikap sabar dan rendah hatidalam melakukan sesuatu dan dalam berhadapan dengan sesama.
            Ajaran yang terdapat dalam Taoisme mengajarkan nilai-nilai kebajikan bagi setiap umat manusia. Dengan mengikuti aturan secara teratur kita akan dapat sampai pada ketenangan batin dan kelak akan menikmati kebahagiaan. Nilai-nilai luhur yang diajarkan dan yang terdapat dalam Taoisme dapat semakin memanusiakan manusia apabila nilai-nilai luhur itu ditaati sesuai dengan perintah dan isi kitab. Ajaran yang terdapat dalam Taoisme sungguh mulia. Taoisme dalam melihat sesuatu tidak hanya melalui satu sisi saja melainkan mencoba melihat kedua sisi secara lebih mendalam. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kita tidak boleh hanya melihat tampilan lahiriah saja tetapi harus mampu melihat lebih dalam dan jauh. Taoisme juga memuat prinsip-prinsip hidup yang harus dipatuhi.
            Dalam hidup ini Taoisme mengajarkan kepada kita agar manusia dapat belajar dari alam, khususnya air. Air tidak hanya berguna bagi manusia tetapi berguna bagi setiap makhluk di bumi. Selain itu manusia juga dapat belajar dari sifat-sifat air. Bagi saya pribadi, saya mengatakan bahwa saja tidak tertutup kemungkinan bagi umat Kristen untuk membaca syair-syair indah yang terdapat dalam ajaran Taoisme. Saya katakan demikian karena syair-syair indah itu mampu menggambarkan dan memberikan inspirasi kepada kita dalam melakukan suatu kebajikan yang sesuai dengan nilai-nilai moral.



[1] Dr. Mudji Sutrisno SJ, Zen Buddhis: Ketimuran dan Paradoks Spiritual (Jakarta: Obor, 2002), hlm. 31.
[2] Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins,  Simple Taoisme: Tuntunan hidup dalam keseimbangan (Jakarta: Bhuana lmu Populer. 2000), hlm. 11-14.
[4] Dr. Mudji Sutrisno SJ, Zen Buddhis: Ketimuran…, hlm. 34-35.
[5] Tjan Tjoe Son, Tao Te Ching: Kitab tentang Jalan dan Saktinya (Jakarta: Bhratara, 1962). Hlm. 14-15.
[6] Tjan Tjoe Son, Tao Te Ching: Kitab tentang Jalan…, hlm. 16-17.

[7] Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian Orang Bijak, buku I (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 13-17.

[8] Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian…, hlm. 20-21.
[9] Tjan K, DAODEJING: Kitab Kebijakan dan Kebajikan (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007), hlm. 8.
[10] Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian Orang Bijak, buku II (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 13-17.

[11]  Soejono Soemargono, Sejarah Ringkas Filsafat Cina: Sejak Konfucius sampai Han Fei Tzu (Yogyakarta: Liberty, 1990), hlm. 130-131.
[12] Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian…, hlm. 2-5.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar