Pengantar
Ajaran
Tao merupakan sebuah filsafat mengenai suatu jalan untuk mengikuti alam, yang
dirintis oleh seorang tokoh bernama Lao Zi. Lao Zi mengajarkan bahwa hidup
sederhana dan harmonis sangatlah penting. Dengan demikian suatu sikap hidup
yang selalu mencari keuntungan mesti dilepas dan hendaknya manusia mampu
mengatur nafsu di dalam diri. Situasi yang penuh dengan keprihatinan memberi
suatu harapan untuk lahirnya ajaran Tao yang menekankan kedamaian dan
keharmonisan.
Pada waktu itu ketamakan dan nafsu
untuk berkuasa sungguh menguasai Cina sehingga hal ini membawa suatu
penderitaan yang besar bagi masyarakat. Lao Zi yakin bahwa semakin manusia
dikuasai oleh ketamakan dan hawa nafsu maka harapan untuk mencapai kedamaian
dan kegembiraan serta keharmonisan semakin sulit untuk didapatkan. Maka dari
itu Lao Zi menganjurkan suatu prinsip hidup yang selaras dengan alam.[1]
Maka dalam tugas ini saya mencoba memaparkan sedikit ajaran tentang Tao. Ajaran
tentang Tao sungguh menarik perhatian saya untuk membahasnya karena berisi
nilai-nilai kebajikan yang patut dipatuhi oleh setiap manusia.
I. Riwayat Hidup Pendiri Taoisme
Untuk
mengetahui perkembangan Taoisme, telah banyak ahli melakukan penelitian dan
mencari fakta tentang berdiri dan berkembangnya Taoisme. Mereka mencoba
meneliti sejarah dan perkembangan aliran ini serta mencari siapa tokoh-tokoh
yang berperan di dalamnya. Namun karena banyak kelainan dalam tradisi sejarah
maka sifat alami dari Taoisme itu masih banyak yang belum diketahui.
Lao Zi adalah seorang laki-laki yang
penuh dengan misteri. Ia lahir kira-kira tahun 604 sM. Lao Zi dikenal sebagai
tokoh legendaris penulis kitab Tao Te
Ching. Menurut cerita, Lao Zi tumbuh dewasa di dalam rahin ibunya selama 62
tahun. Ketika lahir ia sudah menjadi seorang laki-laki dewasa dengan rambut
putih dan daun telinga yang panjang. Lao Zi bekerja di ibu kota
Loyang sebagai penjaga arsip di istana
kerajaan Chou. Selama ia bekerja sebagai penjaga arsip kerajaan, ia tahu banyak
tentang adat kebiasaan Kaisar Kuning (2697 sM) dan semua karya agung yang ada
pada masa itu. Ketika ia bertemu dengan Konfusius, ia telah berumur 50 tahun
lebih tua daripada Konfusius. Konfusius pernah memohon kepada Lao Zi agar ia
diajari ritual dalam berprilaku. Dengan kata lain dapatdikatakan bahwa
Konfusius pernah berguru dan menjadi murid Lao Zi.
Ada tradisi yang mengatakan bahwa ketika Lao
Zi menikah ia dikaruniakan seorang anak bernama Tsung yang akhirnya menjadi
seorang tentara yang amat terkenal. Namun banyak juga tradisi berikut yang
mengaku sebagai keturunan Lao Zi tetapi tidak dapat dipastikan apakah hal itu memang benar. Dipercayai bahwa Lao Zi
tidak pernah membuka aliran resmi, tetapi banyak murid yang berduyun-duyun
datang menghampirinya sehingga akhirnya ia memiliki sejumlah pengikut yang
setia. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa hidupnya penuh dengan kesibukan.
Kendati demikian, Lao Zi merasa
sedikit frustasi akibat terjadinya kemerosotan nilai moral dalam masyarakat.
Kehidupan kota
membuat dia merasatidak mungkin hidup selaras dengan kepercayaan Taoisnya. Maka
akhirnya pada usia yang sudah sangat lanjut; kira-kira berumur 160 tahun, ia
memutuskan untuk meninggalkan kota
ke wilayah barat yang tidak berpenghuni untuk menjalani hidup menyendiri
sebagai seorang pertapa. Ketika sampai di pintu gerbang penjaga pintu memohon
kepadanya agar meningglkan sejumlah catatan yang memuat kebijaksanaan. Akhirnya
Lao Zi duduk dan menyusun buku yang terdiri dari 5.000 huruf yang sekarang
dikenal dengan Tao Te Jing. Si
penjaga gerbang sangat tergerak akan isi buku tersebut sehingga ia memutuskan
untuk menemani Laozi dalam perjalanannya. Keduanya akhirnya menghilang dan
tidak pernah muncul kembali. Ada legenda yang
mengatakan bahwa Lao Zi muncul di India untuk mengikuti Budha. Dan
ada kisah lain yang mengatakan bahwa Lao Zi adalah Budha itu sendiri.[2]
2. Ajaran Taoisme
Inti
ajaran Taoisme adalah “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat namun
merupakan proses kejadian dari semua benda yang hidup dan segala benda yang ada
di alam semesta. Taoisme bersifat tenang dan lembut seperti air serta bersifat
abadi.manusia sampai pada keabadian jika ia sampai pada kesadaran Dao dan orang tersebut akan menjadi
seperti seorang dewa. Penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai suatu
kesadaran hingga ia sampai pada tahap dewa.
Taoisme juga memperkenalkan teori Yin-Yang. Teori Yin-Yang bisa kita terjemahkan sebagai positif dan negatif. Setiap
benda yang beada di dalam alam semesta; baik benda hidup maupun benda mati
mengandung Yin-Yang yang saling
melengkapi sehingga sampai pada keseimbangan. Seumpama sebuah magnet mempunyai
unsur positif dan negatif di mana kedua-duanya saling melengkapi. Akan tetapi
jika magnet tidak mempunyai unsur positif maka ia juga tidak memiliki unsur
negatif. Magnet akan kehilangan maknanya jika ia kehilangan kedua unsur
tersebut yakni unsur positif dan negatif.[3]
Ajaran Yin-Yang memandang jagat ray
sebagai hasil interaksi antara dua kekuatan universal yang saling berlawanan,
yakn kekuatan “Yin” dan “Yang”.
Keberadaan jagat terletak pada ketegangan antara dua kekuatan besar. “Yin” sebagai
kekuatan peniada (non-being) dan ‘Yang”
sebagai kekuatan pengada (being). Segala sesuatu yang terjadi di jagat
raya memiliki sisi “ada” dan “tidak ada” yang tidak lain merupakan perlawanan
antara “Yin” dengan “Yang”. Dunia yang terus menerus berubah ini hanya bisa ada
bila mempunyai kedua kekuatan tadi yakni ada dan tidak ada. Dengan demikian
persatuan antara Yin dengan Yang muncul di jagat sebagai dua kekuatan yang
saling menyusun.[4]
Ada yang mengatakan bahwa Tao Te Ching bukanlah merupakan suatu
uraian sistematis tentang suatu pandangan alam atau pandagan hidup tetapi suatu
kumpulan ucapan-ucapan tentang masalah-masalah mengenai manusia dan tempatnya
di dunia, yang semuanya dilihat dari pendirian tertentu. Pada mulanya ada
sesuatu dalam bentuk campuran: sunyi, kekal, tidak dapat dilihat, tak dapat
didengar, tak dapat diraba, tanpa rasa, tanpa nama, dll. Kita dapat menyebutnya
sebagai “Jalan”. “Jalan” itu mengandung segala-galanya, di mana hal-hal yang
bertentangan tercakup di dalamnya dan diselaraskan, seperti: terang dan gelap,
diam dan gerak, ada dan tidak ada dan lain sebagainya.
“Jalan” berjalan sesuai dengan
kodrat alam, bergerak sampai pada puncaknya dan kemudian kembali seperti
semula. Semua alam berasal dari “Jalan”, mulai dari langit dan bumi yang secara
bersama-samamelahirkan benda lain. Bagi “Jalan” pertentangan, perbedaan apapun
tidak berlaku. Baginya putih sama dengan hitam, terang dengan gelap, tinggi dan
rendah, luas dan sempit, dan lain sebagainya. “Jalan” melebur segala
pertentangan. Baginya tidak ada keindahan, tetapi juga tidak ada kejelekan,
tidak ada kebaikan tetapi juga tidak ada kejahatan, tidak ada kemuliaan tetapi
juga tidak ada kehinaan. Ia tidak memihak dan tidak berat sebelah, tetapi ia
kosong dan justru dalam kekosongan akan tampak gunanya.[5]
Manusia hidup di dunia dan tersesat
dalam pertentangan. Manusia seharusnya bergerak mengikuti “Jalan”, sebagaimana
langit dan bumi bekerja dengan sendirinya sehingga ia abadi. Demikian juga
manusia jangan bertindak, jangan mendesak usahanya, jangan mengejar tujuan,
jangan memuji dan mencela. Sebaliknya, manusia harus melepaskan diri dari segala
macam pengetahuan yang bisa menjauhkan manusia dari “Jalan”. Manusia hendaknya
mencontoh air yang selalu memilih tempat yang paling rendah. Manusia juga
hendaknya seperti lembah yang mampu menampung segala-galanya; baik yang bersih
maupun yang kotor. Dengan demikian maka manusia akan menjadi orang yang suci,
yang tidak mempunyai keiginan, yang tidak dapat digoda oleh dunia, yang tidak
mempunyai rasa benci dan takut.
Seorang pemimpin Negara haruslah
suci. Ia tidak memimpin dengan paksaan, tidak membuat larangan, tidak
mengada-adakan aturan, tidak menjalankan prikemanusiaan atau keadilan, namun
tanpa ia bertindak semua sudah menjadi teratur. Ia tidak mempunyai kehendak
sendiri tetapi kehendaknya sama dengan kehendak rakyat. Seorang pemimpin tidak
mencari kemuliaan tetapi dengan sendirinya rakyat akan memuliakannya.[6]
Tao dan Alam Semesta
Bila manusia memiliki konsep baik
maka akan timbul konsep tentang kejahatan dan bila manusia memiliki konsep baik
maka akan timbul konsep tentang buruk. Perbedaan antara panjang dan pendek ada
sesudah diperbandingkan, dan perbedaan antara tinggi dengan rendah ada sesudah
diperbandingka. Urutan depan dan belakang juga ada sesudah diperbandingkan.
Nilai dan konsep disusun oleh
manusia dan pendapat ada sesudah diperbandingkan. Hubungan itu dapat berubah
tetapi definisi tetap. Nilai perbedaan antara cantik dan buruk, punya dan tidak
punya, sulit dan mudah, panjang dan pendek, tinggi dan rendah, depan dan belakang,
tidak bertahan untuk selamanya. Alam semesta tidak memihak dan tidak
mementingkan diri sendiri. Semua hal
diperlakukan secara sama tanpa ada menunjukkan sikap suka atau tidak suk. Orang
yang bijaksana juga tidak memihak dan tidak memntingkan diri sendiri. Baginya
semua adalah sama.[7]
Manusia juga dapat belajar dari air.
Orang yang berbudi luhur seumpama seperti air. Air mempunyai tiga sifat
istimewa. Pertama, air dapat memberikan makanan kepada siapa saja. Kedua,
karena lunak maka air tidak menentang hal-hal yang menyimpang namun membiarkan
semua itu berjalan sebagaimana mestinya. Ketiga, air mengalir ke tempat yang
rendah, di mana sesuatu yang bersifat rendah sering kali diremehkan oleh setiap
orang. Seperti air yang tempatnya di bawah, orang yang berbudi luhur mau
bersikap rendah. Seperti air yang memberikan makanan kepada siapapun secara
adil menggambarkan bahwa orang yang berbudi luhur tidak pamrih untuk melakukan
sesuatu. Karena sifatnya yang lemah, air dapat mengambil bentuk apapun
tergantung dari tempatnya. Kalau orang bias seperti air maka ia dapat
memperoleh sesuatu yang baik.[8]
Air melambangkan suatu kebaikan yang
mulia yang sungguh memberikan banyak manfaat bagi semua makhluk. Oleh sebab itu
manusia dalam hidupnya hendaknya senantiasa belajar dari sifat-sifat air. Untuk
lebih memahami makna kebaikan dari air, marilah sejenak kita melihat pepatah
atau syair indah di bawah ini:
Kebaikan yang termulia itu bagai air,
Air itu memberi manfaat bagi semua,
Tetapi ia tidak suka bersaing,
Ia memilih tempat yang rendah, yang tak
dikehendaki orang lain,
Karena itu ia dekat dengan dao.
Perbuatan itu hendaknya seperti ini:
Untuk
bermukim, pilihlah tempat yang sesuai,
Untuk
membina diri, dalamilah batinmu,
Untuk
bergaul, perlakukanlah sesamamu dengan sebaik-baiknya,
Untuk
berbicara, jagalah kepercayaan,
Untuk memerintah pakailah cara
memimpin,
Untuk
membereskan masalah, bersikaplah terampil,
Untuk
bertindak, lakukanlah pada saat yang tepat
Tetapi, hanya apabila tak bersaing,
Maka semua perbuatanmua menjadi tak bercela.
Sajak di atas menggambarkan bahwa
persaingan dapat menyebabkan percekcokan dan permusuhan. Betapa baikpun tingkah
laku kita, tetapi selama tindakan kita mengarah pada persaingan dengan orang
lain, maka tetap saja kita tidak dapat menghindari celaan dari orang lain.[9]
Manusia dan Tao
Bila orang yang memiliki budi luhur
mendengar sesuatu hal tentang Tao, maka ia akan dengan sungguh-sungguh hidup
sesuai dengan Tao. Namun jika seorang biasa mendengar tentang Tao maka ia
seolah-olah memahaminya padahal sebenarnya ia tidak memahaminya. Orang yang
dapat mengerti tentang Tao adalah orang yang bijaksana dan bukan orang biasa.
Orang yang memiliki kemurnian sempurna tidak akan memikrkan penampilan luarnya
tetapi menunjukkan isi hatinya. Tao tidak bersifat menonjolkan diri tetapi ia
memiliki kekuatan untuk bertindak. Orang yang dapat melakukan hal demikian akan
dapat menjadi contoh bagi dunia. Menghormati dan menghargai kebaikan ajaran Tao
tidak dicari-cari tetapi terjadi secara wajar. Ajaran Tao bertindak berdasarkan
kewajarannya. Ajaran Tao membiarkan segalanya tumbuh secara wajar. Ajaran Tao
tidak mementingkan diri sendiri dan di sanalah letak kebesarannya.[10]
Lao Zi mengingatkan kita bahwa;
“tidak mengenal yang tetap dan bertindak secara membabi buta berarti terjerumus
ke dalam bencana. Setiap orang dianjurkan untuk mengenal hukum-hukum kodrat dan
melakukan kegiatannya sesuai dengan hukum kodrat tersebut. Lao Zi juga sering
mengingatkan bahwa dengan menempatkan diri di belakang layar maka manusia bijaksana
senantiasa mengemuka. Sesuatu yang paling sempurna tampak ada kekurangannya
namun penggunaannya tidak bercela. Sesuatu yang paling penuh tampak kosong
namun penggunaannya tiada habis-habisnya.
Dalam melalui jalan manusia
harussenantiasa bersikap hati-hati agar dapat hidup aman dan mencapai
tujuan-tujuannya. Hal ini merupakan salah satu penyelesaian Lao Zi terhadap
masalah yang dihadapi penganut Taoisme, yakni bagaimana cara melestarikan
kehidupan dan menghindari kerugian serta bahaya di dunia manusia. Seseorang
yang hidup hati-hati harus bersikap sabar dan
rendah hati.[11]
Kebijakan dalam Hidup
Selama
berabad-abad anggapan umum mengatakan bahwa manusia harus menunjukkan suatu
sikap kuat dan tidak lemah, pandai dan tidak bodoh. Namun bagi Lao Zi tidaklah
demikian. Manusia harus menunjukkan kelemahlembutan dan tidak kaku, terus
terang dan tidak licik, mempunyai motif atau keinginan, tidak egois dan tidak
merendah, serta berpikkiran jernih alami. Umumnya orang beranggapan bahwa
bersikap kaku itu baik. Kita dapat melihat
kenyataannya bahwa yang keras akan rapuh dan yang lunak akan tetap
bertahan. Sebagai contoh, gigi yang sifatnya keras pada tubuh manusia pada usia
tua pasti akan rontok atau hilang. Namun lidah yang sifatnya lunak tidak akan
hilang ataupun rapuh pada masa tua seseorang. Contoh lain yang dapat kita ambil
yakni; pohon besar yang berdiri kokoh
kuat akan roboh jika diterpa angin namun rumput akan tetap kokoh jika sekalipun
angina datang menggoncang. Air yang sifatnya lunak bias menembus celah. Melalui
contoh di atas kita dapat memberi kesimpulan bahwa sesuatu yang keras tidak
selamanya kuat dan yang lemah memang benar-benar kuat.
Lao Zi berpendapat bahwa untuk
menjadi lembut seseorang harus rendah hati, mengalah, arif dan mampu memahami
arti hidup. Pikiran sederhana mencegah rasa sombong dan segalanya sesuai dengan
alam. Umumnya orang bisa melihat sesuatu secara dangkal, namun Lao Zi bias melihat
intinya. Umumnya orang melihat sesuatu dari satu sisi saja namun Lao Zi bisa
melihat dari sisi lain. Filsafat Lao Zi mencakup segala hal di dunia luas dan
tidak berubah. Ia bertahan dalam suka dan duka. Jika menghadapi kendala, ia
tidak bimbang tetapi mempelajarinya dan terus maju. Lao Zi menentang
materialisme dan menganjurkan kehidupan spiritual. Dia menentang kepalsuan dan
menganjurkan kebaikan alami.[12]
REFLEKSI
Semua agama pada umumnya adalah
baik, hanya saja cara dan jalan yang dipilih untuk mencapai suatu tujuan akhir
berbeda-beda. Agama Kristen salah satunya, senantiasa mengajarkan hal-hal yang
baik bagi segenap umat manusia khuusnya antar umat Kristen sendiri. Jika setiap
umat kristiani melakukan hal-hal yang baik dan berkenan di hati Tuhan maka
kelak ia akan memperoleh kebahagiaan abadi bersama Bapa di Surga. Tetapi jika
ia melanggar segala aturan yang ada, di mana pelanggaran itu bertentangan
dengan nilai moral kristiani maka kelak ia akan mendapat hukuman yang setimpal
dengan dosa dan perbuatan yang telah dilakukannya.
Nilai-nilai kebaikan tidak hanya
ditanamkan di dalam gereja Katolik atau Kristen saja, tetapi juga nilai-nilai
kebaikan itu dapat juga kita temukan dalam agama lain. Ajaran tentang Taoisme
dbudaya Timur mengajarkan suatu nilai kebaikan yang harus dijalankan oleh
setiap orang agar kelak ia memperoleh kebahagiaan dan keharmonisan dalam hidup.
Taoisme yang dibawa oleh Lao Zimengajak setiap manusia untuk selalu bersikap
sabar dan rendah hatidalam melakukan sesuatu dan dalam berhadapan dengan sesama.
Ajaran yang terdapat dalam Taoisme
mengajarkan nilai-nilai kebajikan bagi setiap umat manusia. Dengan mengikuti
aturan secara teratur kita akan dapat sampai pada ketenangan batin dan kelak
akan menikmati kebahagiaan. Nilai-nilai luhur yang diajarkan dan yang terdapat
dalam Taoisme dapat semakin memanusiakan manusia apabila nilai-nilai luhur itu
ditaati sesuai dengan perintah dan isi kitab. Ajaran yang terdapat dalam
Taoisme sungguh mulia. Taoisme dalam melihat sesuatu tidak hanya melalui satu
sisi saja melainkan mencoba melihat kedua sisi secara lebih mendalam. Dengan
demikian kita dapat mengatakan bahwa kita tidak boleh hanya melihat tampilan
lahiriah saja tetapi harus mampu melihat lebih dalam dan jauh. Taoisme juga
memuat prinsip-prinsip hidup yang harus dipatuhi.
Dalam hidup ini Taoisme mengajarkan
kepada kita agar manusia dapat belajar dari alam, khususnya air. Air tidak
hanya berguna bagi manusia tetapi berguna bagi setiap makhluk di bumi. Selain
itu manusia juga dapat belajar dari sifat-sifat air. Bagi saya pribadi, saya
mengatakan bahwa saja tidak tertutup kemungkinan bagi umat Kristen untuk
membaca syair-syair indah yang terdapat dalam ajaran Taoisme. Saya katakan
demikian karena syair-syair indah itu mampu menggambarkan dan memberikan
inspirasi kepada kita dalam melakukan suatu kebajikan yang sesuai dengan
nilai-nilai moral.
[1]
Dr. Mudji Sutrisno SJ, Zen Buddhis:
Ketimuran dan Paradoks Spiritual (Jakarta:
Obor, 2002), hlm. 31.
[2]
Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Simple Taoisme: Tuntunan hidup dalam
keseimbangan (Jakarta:
Bhuana lmu Populer. 2000), hlm. 11-14.
[3] Ensiklopedia bebas “Taoisme” dalam http://www.gb.taoism.org.hk/general-taoism/origin&formation-of-taoism/pg1-1-1-5.htm.
[4]
Dr. Mudji Sutrisno SJ, Zen Buddhis: Ketimuran…,
hlm. 34-35.
[5]
Tjan Tjoe Son, Tao Te Ching: Kitab
tentang Jalan dan Saktinya (Jakarta: Bhratara, 1962). Hlm. 14-15.
[6]
Tjan Tjoe Son, Tao Te Ching: Kitab
tentang Jalan…, hlm. 16-17.
[7]
Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi:
Kedamaian Orang Bijak, buku I (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 13-17.
[8] Tsai
Chih Chung, Pepatah Lao Zi: Kedamaian…, hlm.
20-21.
[9]
Tjan K, DAODEJING: Kitab Kebijakan dan
Kebajikan (Yogyakarta: Indonesia Tera,
2007), hlm. 8.
[10]
Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi:
Kedamaian Orang Bijak, buku II (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 13-17.
[11] Soejono Soemargono, Sejarah Ringkas Filsafat Cina: Sejak Konfucius sampai Han Fei Tzu (Yogyakarta:
Liberty, 1990), hlm. 130-131.
[12]
Tsai Chih Chung, Pepatah Lao Zi:
Kedamaian…, hlm. 2-5.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar