PENGANTAR
Pada zaman sekarang, pengertian
Mesias sudah menjadi baku, bahwa Yesus Kristuslah Mesias yang telah datang ke
dunia ini untuk menyelamatkan manusia dari dosa, sehingga setiap orang
memperoleh hidup yang kekal pada saat kedatangan-nya untuk yang kedua kalinya.
Kita mengenal Yesus sebagai Mesias, Penyelamat yang menyerahkan diri-Nya
sebagai tebusan bagi semua orang.
Bangsa Israel sebagai bangsa Allah sudah
menantikan kedatangan Mesias dengan berpegang pada nubuat para nabi. Namun
ketika Yesus datang ke dunia Bangsa Israel kurang menerima Yesus
sebagai Mesias. Figur Yesus tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh Bangsa Israel. Namun,
bagaimanakah konsep Mesias yang mereka harapkan? Hal ini akan dicoba dijawab
secara singkat berdasarkan metode Kristologi dari atas yang lebih menekankan
Kemesiasan Yesus sebagai Putera Allah.
Yesus Mesias
“Mesias” dan “Kristus” sama-sama
dimengerti sebagai “Yang Terurapi” dan menunjuk pada seorang figur yang akan
mendirikan Kerajaan Allah yang kekal di bumi yaitu suatu kerajaan damai. Orang
Kristen percaya bahwa Yesus diurapi oleh Allah untuk merintis Kerajaan Allah
yang kekal.[1] Yesus
wafat sebagai Mesias, dan seluruh peristiwa sebelumnya semasa hidupnya juga mengarah
ke situ. Tetapi, mengapa Yesus disebut Mesias? Ketika orang hendak membawa
Yesus dengan paksa untuk dijadikan sebagai Raja, Ia menyingkir ke gunung
seorang diri (Yoh 6: 25). Sesudah pengakuan Petrus: “Engkaulah Mesias”, Yesus
melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun
tentang Dia, Mengapa? Hal ini dirasa tidak jelas. Yang jelas bahwa jika Yesus
mulai berbicara mengenai sengsara dan wafat-Nya, “Petrus menarik Dia ke samping
dan menegur Dia”. Petrus tidak dapat menerima Yesus yang harus menderita
walaupun hal itu justru harus diterima.[2]
Injil Markus mewartakan Yesus Mesias
melalui banyak gelar. Gelar-gelar yang diberikan kepada Yesus antara lain:
orang Nazaret, Guru, Nabi, Putra Daud, Mesias, Anak Allah, Anak Manusia dan
Tuhan. Gelar Orang Nazaret, Guru dan Nabi dipakai Markus untuk menekankan
asal-usul dan status Yesus ketika berhadapan dengan Orang Yahudi.
Gelar Putra Daud, Mesias, Anak Allah
dan Anak Manusia dipakai Markus untuk mewartakan kepada jemaat Kristen bahwa
Yesus menggenapi seluruh pengharapan mesianis Israel. Bagi orang Israel, keempat
gelar ini mempunyai arti dasar yang sama, yaitu pribadi yang terurapi yang
disebut Mesias. Mesias dikenal sebagai Raja yang akan datang untuk menaklukkan
musuh-musuh Israel;
membebaskan Israel
dari perbudakan dan penderitaan serta menciptakan keadilan dan perdamaian.
Mesias yang akan datang itu berasal dari dinasti Daud dan akan disebut Mesias,
Putra Daud. Diyakini bahwa Mesias Putera Daud adalah Anak Allah. Harapan
Mesianis Putra Daud dikenakan pada Yesus, “Yesus
Putra Daud kasihanilah aku” (Mrk 10: 47).[3]
Gagasan mereka tentang Mesias
dimurnikan terus oleh Yesus. Mesias harus menderita dan justru dalam
penderitaan itulah tampak dengan jelas bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus sebagai
Mesias tidak boleh dipandang sebagai seorang pemimpin tentara seperti yang
diharapkan orang Yahudi pada waktu itu tetapi justru dengan penderitaan dan
wafat-Nya, Yesus mematahkan hukum balas membalas yang terus melahirkan
penderitaan dan kejahatan. Namun, orang Yahudi sangat sulit untuk dapat
menerima pandangan ini.[4]
Refleksi Penulis
Dalam Gereja dapat ditemukan peranan
Yesus Mesias sebagai pemimpin yang solider dengan manusia. Gereja, melalui
sakramen-sakramen yang dimilikinya mewartakan karya keselamatan Yesus Mesias
bagi semua orang. Penderitaan Salib menjadi dasar dan bukti cinta kasih Allah
bagi manusia dalam diri Yesus Mesias. Yesus Mesias memberikan seluruh hidup-Nya
sebagai tebusan semua orang agar semua orang yang ditebus dibawah kepemimpinan
Yesus Mesias, kembali kepada Allah satu-satunya sumber keselamatan. Singkatnya,
melalui misteri salib dan kebangkitan Yesus Mesias menghadirkan kuasa Allah
yang menyelamatkan semua orang di tengah-tengah dunia. Oleh karena itu, dalam
segala hal, Gereja mewartakan Yesus Mesias sebagai penyelamat dan pemimpin
semua orang kepada kehidupan.
Salib, penderitaan dan penolakan
tidak boleh menjadi penghalang bagi seseorang dalam melaksanakan tugasnya
sebagai wakil dan pelayan Yesus Mesias di dunia. Seseorang harus berani untuk
menerima dan memanggul salib bersama dengan Yesus Mesias bila dalam
pelayanannya ia dituntut untuk hal itu. Seorang religius harus yakin bahwa
dalam melaksanakan seluruh tugasnya ia tidak sendirian melainkan bersama dan
bersatu dengan Mesias. Seseorang harus yakin bahwa dasar kekuatan dalam
pelaksanaan tugasnya adalah Allah.
Yesus Mesias menghendaki agar semua
umat-Nya bersatu padu, sama seperti diri-Nya bersatu padu denga Bapa, Bapa di
dalam Dia dan Dia di dalam Bapa, dan mereka menjadi satu dan sama. Kesatuan
dengan Yesus Mesias dimungkinkan oleh Roh Kudus. Maka dari itu, seseorang harus
terbuka pada kurnia Roh Kudus. Sikap ini dapat dikembangkan melalui doa,
meditasi dan kesetiaan pada tugas dan
tanggungjawab Yesus Mesias. Melalui penyatuan diri dengan Yesus Mesias
seserorang akan mampu meneladani Yesus Mesias dalam seluruh hidupnya.teladan
Yesus Mesias hendaknya menjadi prinsip dan dasar kekuatan pelayanan seseorang.
[1]
Michael Keene, Yesus, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 102.
[2] Tom
Jacobs, Imanuel: Peubahan dalam Perumusan
Iman akan Yesus Kristus (Yogyakarta:
Kanisius, 2000), hlm…76-77.
[3]
Yosef Lalu, Makna Hidup dalam Terang Iman
Katolik ; Yesus Kristus Pemberi Makna Hidup (Yogyakarta:
Kanisius, 2010), hlm. 258-259.
[4]
W.R. Telford, The Theology of Gospel of
Mark (Cambridge:
University Press, 2006), hlm. 35.

Casino Queen at Rydham - MapyRO
BalasHapusThis casino is located at Rydham. It is located at 1012 남양주 출장마사지 Rydham Rd, Rydham, Northumberland. 제주도 출장안마 Directions is 삼척 출장안마 8.1.21 (1) 논산 출장안마 635-2446. 하남 출장안마